Tenggarong, intuisi.co– Transformasi wisata berbasis konservasi mulai digarap oleh Desa Suka Maju, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Pemerintah desa setempat memantapkan langkah menjadikan Gua Batu Gelap sebagai destinasi ekowisata yang mengedepankan edukasi dan pelestarian lingkungan.
Selama bertahun-tahun, Gua Batu Gelap hanya dikenal oleh komunitas pecinta alam dan mahasiswa penjelajah gua. Kini, destinasi unik tersebut siap menyambut pengunjung umum dengan penataan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Kepala Desa Suka Maju, Kuswara, menekankan bahwa pendekatan pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, melainkan juga pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian alam.
“Kami ingin Gua Batu Gelap menjadi contoh wisata berkelanjutan. Bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana edukasi dan sumber ekonomi warga,” ujarnya, Jumat (27/6/2025).
Gua ini memiliki keunikan geologis berupa 34 pintu yang saling terhubung, menjadikannya surga bagi penggemar wisata minat khusus seperti susur gua, fotografi gua, dan eksplorasi ekosistem bawah tanah. Sayangnya, potensi tersebut belum tergarap maksimal.
Memasuki tahun 2025, Pemerintah Desa Suka Maju mulai menyusun grand design penataan ekowisata. Langkah awal meliputi pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pembangunan akses jalan sepanjang dua kilometer, pengajuan pemasangan listrik ke PLN, serta rencana pembangunan gazebo dan fasilitas istirahat bagi wisatawan.
Yang menjadi sorotan, strategi pengembangan tidak hanya menyasar aspek fisik. Pelibatan aktif warga, khususnya pemuda dan kelompok perempuan, menjadi fondasi utama.
Pokdarwis diisi oleh anak-anak muda desa yang akan dilatih sebagai pemandu wisata, penjaga kawasan, pengelola homestay, dan pelaku usaha kuliner lokal.
“Kami tidak ingin warga hanya jadi penonton. Mereka harus terlibat langsung agar manfaat ekonomi bisa dirasakan,” tambah Kuswara.
Ke depan, wisatawan yang berkunjung ke Gua Batu Gelap tidak hanya menikmati keindahan formasi batu gamping, tetapi juga merasakan keramahan warga, menginap di rumah penduduk, dan mencicipi produk UMKM lokal.
Meski semangat pengembangan tinggi, Kuswara menegaskan bahwa pelestarian tetap menjadi prioritas. Pemerintah desa berkomitmen membatasi aktivitas yang berpotensi merusak gua, seperti vandalisme, penambangan liar, dan pembangunan yang tidak ramah lingkungan.
“Keaslian gua adalah nilai jual utama. Maka, semua pembangunan harus berlandaskan prinsip ramah lingkungan,” tegasnya.
Ia berharap, inisiatif ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kutai Kartanegara yang memiliki potensi alam serupa. Dengan kolaborasi warga, teknologi tepat guna, dan komitmen menjaga alam, desa kecil pun mampu menciptakan perubahan besar.
Jika pengembangan Gua Batu Gelap berjalan sesuai visi, Desa Suka Maju tak hanya mencetak destinasi baru di peta wisata Kukar, tetapi juga membuktikan bahwa pelestarian alam dan peningkatan ekonomi desa bisa berjalan beriringan. (adv/ara)



