Pulihkan Sawah Terendam Loa Ipuh, Pemkab Kukar Siapkan Rp10 Miliar

intuisi

29 Sep 2025 14:56 WITA

Loa Ipuh
Ilustrasi- Hasil bumi sebagai ketahanan pangan di Kukar. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co— Dengan mengenakan jaket lapangan dan helm trail, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menerobos jalan berlumpur di kawasan Rapak Rabau, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Senin (29/9/2025).

Blusukan kali ini bukan sekadar inspeksi seremonial. Aulia ingin melihat langsung kondisi sawah-sawah tidur yang selama bertahun-tahun gagal berproduksi akibat genangan air yang tak kunjung surut.

Langkah tersebut menjadi simbol keseriusan Pemkab Kukar dalam menghidupkan kembali lahan pertanian yang lama terbengkalai, sekaligus bagian dari strategi besar pemerintah daerah memperkuat ketahanan pangan lokal.

“Dari laporan masyarakat, lahan seluas 200 hektare di daerah Loa Ipuh ini terkendala karena terendam air. Karena itu perlu intervensi melalui normalisasi aliran air agar bisa dialirkan langsung ke sungai,” ujar Aulia di lokasi.

Hasil peninjauan menunjukkan, sebagian besar sawah di wilayah Loa Ipuh tidak lagi berproduksi lebih dari lima tahun terakhir. Kondisi itu memaksa banyak petani beralih profesi sementara karena lahan tidak dapat digarap.

Suriadi, seorang petani setempat, mengaku kunjungan bupati menjadi angin segar bagi masyarakat tani Loa Ipuh.

“Kami sudah lama tidak bisa menanam. Airnya tidak surut-surut, padahal kami siap kerja kalau sudah kering,” ujarnya penuh harap.

Aulia menegaskan, fokus pemerintah bukan membuka lahan baru, tetapi mengoptimalkan lahan eksisting agar kembali produktif. Dari total sekitar 17 ribu hektare lahan sawah di Kukar, baru 13 ribu hektare yang aktif ditanami, sedangkan sisanya—termasuk 200 hektare di Loa Ipuh—masih terkendala irigasi.

Untuk mengatasi hal itu, Pemkab Kukar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan rencana intervensi teknis berupa normalisasi saluran air dan perbaikan jaringan irigasi. Program tersebut akan dimasukkan dalam penganggaran tahun 2026 dengan estimasi biaya Rp8–10 miliar.

“Tadi sudah kita sepakati langkah intervensi. Rencana normalisasi akan dilaksanakan tahun depan dan sudah masuk dalam tahap finalisasi penganggaran 2026,” terang Aulia.

Selain Loa Ipuh, kawasan Kelurahan Jahab juga masuk dalam prioritas penanganan karena menghadapi persoalan irigasi yang sama. Pemerintah menargetkan, upaya normalisasi dan perbaikan jaringan air ini dapat membuka kembali ribuan hektare lahan tidur di Tenggarong dan sekitarnya.

Aulia menegaskan, arah pembangunan pertanian Kukar ke depan akan berfokus pada penguatan pengairan dan infrastruktur jalan usaha tani sebagai tulang punggung peningkatan produktivitas pangan.

“Ke depan, intervensi kita di bidang pertanian akan fokus pada pengairan dan jalan usaha tani,” tegasnya.

Bagi warga Loa Ipuh, kunjungan lapangan itu membawa optimisme baru. Mereka berharap program normalisasi benar-benar terealisasi agar sawah kembali bisa ditanami padi seperti dulu.

“Kami berharap normalisasi ini benar-benar jadi. Kalau airnya sudah lancar, sawah pasti hidup lagi,” tambah Suriadi. (rio/adv)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!