Spesies Ular Baru Ditemukan di India

intuisi

13 Jan 2026 17:10 WITA

Ular

Jakarta, intuisi.co-Di bawah lapisan tanah perkebunan kopi di India selatan, para ilmuwan menemukan kehidupan yang selama ini nyaris tak terlihat. Sebuah spesies ular bawah tanah baru, Rhinophis siruvaniensis, berhasil diidentifikasi di kawasan Siruvani Hills, wilayah perbukitan di perbatasan Kerala dan Tamil Nadu.

Penemuan ini menambah daftar keanekaragaman hayati tersembunyi yang selama ini luput dari dokumentasi ilmiah global, sekaligus menyoroti pentingnya ekosistem bawah tanah yang jarang tersentuh penelitian. Spesies baru ini ditemukan melalui kolaborasi jangka panjang antara ilmuwan dan masyarakat lokal.

Hewan melata tersebut termasuk dalam kelompok ular ekor perisai (shieldtail snakes), reptil penggali tanah yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah permukaan dan sangat jarang terlihat manusia. Karakter hidup yang tersembunyi inilah yang membuat banyak spesies dalam kelompok ini belum sepenuhnya dipahami oleh sains modern.

Identitas Rhinophis siruvaniensis terungkap setelah melalui proses penelitian panjang selama hampir satu dekade. Penelitian ini bermula pada 2015, ketika warga Desa Jellipara menemukan seekor ular kecil dengan corak hitam dan krem di sebuah perkebunan kopi. 

Temuan tersebut kemudian dilaporkan dan dikoleksi untuk diteliti oleh para herpetolog dari Indian Institute of Science (IISc). Spesimen yang ditemukan warga tersebut menjadi titik awal studi mendalam menggunakan pendekatan morfologi dan genetika.

Melalui analisis DNA mitokondria serta pemeriksaan detail terhadap pola dan jumlah sisik, para peneliti memastikan bahwa ular ini berbeda secara genetik dari spesies terdekatnya, Rhinophis melanoleucus, yang juga hidup di kawasan India selatan. Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan secara resmi, mengukuhkan status R. siruvaniensis sebagai spesies baru.

Secara fisik, Rhinophis siruvaniensis memiliki tampilan yang khas dan mengilap. Tubuhnya didominasi warna hitam kecokelatan dengan corak putih krem yang membentuk bercak-bercak kontras di sepanjang sisik. Pola warna ini menjadi salah satu penanda visual penting yang membedakannya dari spesies ular tanah lain di wilayah tersebut.

Masuk Kategori Ular Perisai

Reptil ini diklasifikasikan sebagai ular ekor perisai karena struktur anatomi unik pada bagian ekor. Ujung ekornya berbentuk tumpul menyerupai cakram atau kubah kecil yang berfungsi sebagai alat bantu saat menggali tanah padat. 

Adaptasi evolusioner ini memungkinkan ular bergerak mundur di dalam liang sempit sekaligus melindungi bagian tubuhnya dari tekanan tanah dan serangan predator. Penentuan spesies baru ini juga didasarkan pada perhitungan jumlah sisik dorsal (punggung) dan sisik ventral (perut) yang sangat spesifik. 

Jumlah dan susunan sisik tersebut berbeda secara signifikan dari spesies kerabatnya. Analisis menggunakan mikroskop stereo menunjukkan tekstur dan pola sisik yang hanya ditemukan pada populasi dari Siruvani Hills, memperkuat argumen bahwa ular ini merupakan spesies endemik dengan sebaran terbatas.

Keberadaan R. siruvaniensis di luar kawasan hutan lindung memunculkan kekhawatiran serius terkait konservasi. Sebagian besar habitatnya berada di lahan perkebunan dan kawasan yang tidak memiliki status perlindungan formal. Sebagai spesies bawah tanah, ular ini sangat rentan terhadap perubahan suhu, degradasi lahan, penggunaan pestisida, serta gangguan aktivitas manusia.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa wilayah yang dianggap “biasa” atau telah dimanfaatkan secara ekonomi masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat spesifik dan rapuh. Ekosistem bawah tanah, meskipun jarang terlihat, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, termasuk aerasi tanah dan rantai makanan mikrofauna.

Para peneliti tidak berhenti pada deskripsi fisik semata. Vivek Cyriac dan timnya berencana melanjutkan penelitian dengan melakukan pengurutan DNA nuklir untuk memahami sejarah evolusi spesies ini secara lebih menyeluruh. DNA nuklir membawa informasi genetik dari kedua induk, sehingga memberikan gambaran evolusi yang lebih lengkap dibandingkan DNA mitokondria yang digunakan dalam studi awal.

Selain itu, sebuah proyek penelitian lanjutan tengah berlangsung di Natural History Museum, London, menggunakan teknologi pemindaian micro-CT. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur tengkorak ratusan spesimen ular ekor perisai untuk memahami bagaimana bentuk kepala dan rahang mereka beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah. Studi serupa direncanakan akan dilakukan di India pada tahun mendatang.

Masa depan konservasi Rhinophis siruvaniensis sangat bergantung pada kolaborasi lintas pihak. Melalui Shieldtail Mapping Project (SMP), para peneliti membuka akses data kepada publik dan komunitas ilmiah global. 

Edukasi kepada pekerja perkebunan dan masyarakat lokal juga terus dilakukan agar keberadaan ular penggali tanah ini tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem. Dengan meningkatnya kesadaran publik dan dukungan kebijakan konservasi, para ilmuwan berharap hutan-hutan tersisa di Siruvani Hills dapat tetap terlindungi. 

Penemuan spesies baru ini bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati dunia, tetapi juga menjadi peringatan bahwa masih banyak kehidupan tersembunyi di bawah kaki manusia yang menunggu untuk dikenali dan dijaga. (rio)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!