Samarinda, intuisi.co — Inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Maret 2026 tetap terkendali meskipun mengalami peningkatan di tengah tingginya permintaan masyarakat selama rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan, Idulfitri, dan Nyepi.
Kenaikan inflasi ini terutama dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat, khususnya pada kelompok bahan makanan dan transportasi yang menjadi penyumbang utama tekanan harga selama periode tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Jajang Hermawan menyampaikan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim pada Maret 2026 mencatat inflasi sebesar 0,72 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 0,60 persen (mtm).
“Secara tahunan, inflasi Kaltim berada di level 3,31 persen (year on year/yoy), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 1,37 persen (year to date/ytd). Angka ini masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen (yoy),” ujarnya.
Peningkatan inflasi pada periode tersebut terutama didorong oleh naiknya permintaan selama HBKN yang memicu kenaikan harga pada kelompok bahan makanan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan angka 1,74 persen (mtm) dan andil sebesar 0,52 persen. Selain itu, kelompok transportasi juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,88 persen (mtm) dengan andil 0,11 persen, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan tingginya permintaan angkutan udara, termasuk cepat terserapnya penerbangan tambahan (extra flight).
“Tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mengalami kenaikan, sehingga mendorong inflasi pada komponen administered prices,” sebutnya.
Secara komoditas, inflasi dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit, bensin, ikan tongkol, ikan layang, dan tomat. Sementara itu, sejumlah komoditas seperti emas perhiasan, parfum, tas sekolah, sawi hijau, dan kangkung justru menahan laju inflasi.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,57 persen (mtm), sejalan dengan penurunan harga sejumlah komoditas di kelompok tersebut.
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kaltim terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, TPID telah melaksanakan 83 kegiatan gerakan pangan murah dan operasi pasar selama Maret 2026. Kegiatan tersebut tersebar di berbagai daerah, antara lain Samarinda sebanyak 33 kali, Kutai Kartanegara 16 kali, Kutai Barat 14 kali, Bontang 8 kali, Mahakam Ulu 6 kali, serta Berau 6 kali.
Sementara pada aspek komunikasi, TPID terus memperkuat koordinasi melalui rapat rutin dan High Level Meeting guna meningkatkan respons pengendalian harga selama HBKN.
“Ke depan, TPID Kaltim akan terus menjaga konsistensi pelaksanaan strategi 4K serta memperkuat langkah mitigasi dini guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga, daya beli masyarakat terpelihara, dan aktivitas ekonomi daerah berjalan optimal,” pungkasnya. (*)



