Anak Putus Sekolah Kukar Kini Bisa Belajar Lagi Lewat SKB

intuisi

24 Okt 2025 15:14 WITA

sekolah
Ilustrasi daya tampung siswa di sekolah. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co – Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), resmi membuka Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak putus sekolah. Program ini menjadi langkah nyata untuk memperluas akses belajar di wilayah pedalaman dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) daerah.

Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan SKB tersebut rampung dibangun pada tahun 2024 dan mulai beroperasi pada 2025. Fasilitas ini menjadi wadah pendidikan nonformal bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan di tingkat SD, SMP, maupun SMA.

“SKB itu baru rampung di tahun 2024, dan mulai tahun 2025 ini resmi beroperasi serta menerima pendaftaran siswa,” jelas Suhartono, Jumat (24/10/2025).

Ia menambahkan, meski data jumlah pendaftar masih menunggu laporan resmi dari UPT Layanan Pendidikan, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Banyak orang tua yang sudah mendaftarkan anak-anak mereka yang sempat berhenti sekolah karena kendala ekonomi atau jarak tempuh.

“Informasi jumlah pendaftar masih menunggu update dari UPT layanan pendidikan, tapi yang jelas sudah dibuka untuk semua anak yang belum mendapat kesempatan bersekolah,” ujarnya.

Salah satu peserta didik SKB, Rizky (17), mengaku senang bisa kembali bersekolah setelah dua tahun berhenti karena biaya transportasi dan jarak sekolah yang jauh. “Saya berhenti sekolah karena jaraknya jauh dan biaya transportasinya mahal. Sekarang ada SKB di sini, jadi saya bisa belajar lagi tanpa harus pergi jauh,” tuturnya dengan senyum lebar.

Kini Rizky menempuh pendidikan setara SMP dan bercita-cita melanjutkan ke sekolah kejuruan setelah lulus. Ia berharap keberadaan SKB bisa membantu teman-temannya yang mengalami nasib serupa untuk kembali belajar.

Selain membuka akses bagi anak putus sekolah, SKB Kembang Janggut juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin meningkatkan kemampuan literasi, numerasi, dan keterampilan vokasional. Sejumlah pelatihan telah disiapkan, mulai dari tata boga, pertanian, hingga kewirausahaan.

Meski begitu, Suhartono mengakui tantangan sektor pendidikan di wilayahnya masih besar, terutama soal keterbatasan tenaga pengajar dan infrastruktur sekolah.

“Data dari unit layanan pendidikan menunjukkan kami masih kekurangan tenaga pengajar, khususnya di tingkat SD. Ada kepala sekolah yang merangkap di beberapa sekolah karena jarak antar desa cukup berjauhan,” jelasnya.

Selain kekurangan guru, kondisi fisik bangunan sekolah di desa-desa terpencil juga masih memprihatinkan.“Untuk sekolah yang jauh dari pusat kecamatan, masih ada yang sarana dan prasarananya belum memadai,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran SKB menjadi titik awal pemerataan pendidikan di Kembang Janggut. Pemerintah kecamatan berharap, fasilitas ini mampu menjadi jembatan bagi anak-anak di pedalaman untuk tetap menempuh pendidikan tanpa terbentur jarak maupun biaya.

“PR sektor pendidikan tidak hanya soal guru, tapi juga kepala sekolah yang masih harus merangkap jabatan. Harapannya ini bisa segera teratasi agar semua anak bisa menikmati pendidikan yang layak,” pungkas Suhartono. (rio/adv)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!