Ancaman “Kimia Abadi” di Roti Eropa

intuisi

13 Jan 2026 20:03 WITA

Roti
Ilustrasi panganan roti. (istimewa)

Jakarta, intuisi.co-Biji-bijian, roti dan sereal menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan jutaan warga Eropa. Namun, panganan ini menghadapi sorotan serius. Sejumlah produk pangan berbasis gandum dilaporkan mengandung bahan kimia berbahaya yang nyaris mustahil terurai di alam. Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru PAN-Europe, jaringan organisasi nonpemerintah yang selama ini mendorong pengetatan regulasi pestisida di Uni Eropa.

Dalam penelitian itu, PAN-Europe menguji 66 produk berbahan gandum dan serealia dari 16 negara Eropa. Sampel yang dianalisis mencakup mi, roti, permen, roti, tepung, hingga sereal sarapan yang beredar luas di pasar konsumen. Hasilnya mencolok: 54 dari 66 sampel mengandung kadar tinggi asam trifluoroasetat (TFA), senyawa yang dikenal sebagai turunan dari bahan kimia industri dan pestisida berbasis PFAS.

TFA dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk gangguan perkembangan janin. Zat ini sangat mudah larut dalam air sehingga dapat menyebar luas melalui hujan, limpasan pertanian, dan limbah domestik. Instalasi pengolahan air limbah pun dinilai belum mampu menyaring TFA secara optimal, kecuali dengan teknologi yang mahal dan kompleks. Menurut Badan Lingkungan Hidup Jerman (Umweltbundesamt/UBA), jumlah senyawa kimia yang dapat terurai menjadi TFA justru terus bertambah seiring penggunaan bahan kimia modern.

TFA di Roti Memengaruhi Kesuburan

TFA termasuk dalam kelompok PFAS — per- and polyfluoroalkyl substances — yang kerap dijuluki sebagai “kimia abadi”. Kelompok ini mencakup lebih dari 10.000 senyawa sintetis yang digunakan secara luas di berbagai sektor industri, mulai dari otomotif, kertas, logam, kimia, hingga plastik. Jejak PFAS ditemukan hampir di seluruh benda keseharian, dari wajan anti lengket, kemasan pizza, hingga jaket hujan.

Masalah utama PFAS adalah sifatnya yang hampir tidak dapat terurai secara alami. Akibatnya, residu senyawa ini kini ditemukan di hampir setiap ekosistem — air, tanah, udara, dan rantai makanan. Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa hampir setiap orang memiliki PFAS dalam darahnya. Paparan jangka panjang dikaitkan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, diabetes, penurunan kesuburan, gangguan perkembangan bayi baru lahir, serta dugaan peningkatan risiko kanker.

Dalam studi PAN-Europe, gandum tercatat sebagai komoditas dengan tingkat pencemaran TFA tertinggi. Rata-rata konsentrasi TFA dalam biji-bijian bahkan lebih dari 100 kali lipat dibandingkan kadar yang ditemukan dalam air minum. Produk dari pertanian konvensional menunjukkan tingkat pencemaran lebih dari dua kali lipat dibandingkan produk organik, memperkuat dugaan keterkaitan antara residu TFA dan penggunaan pestisida berbasis PFAS.

“Manusia terpapar TFA terutama melalui makanan dan air minum yang tercemar pestisida PFAS,” ujar Peter Clausing, toksikolog dari PAN-Germany.

Peringatan dari Otoritas Lingkungan

Keberadaan TFA sebenarnya bukan temuan baru bagi otoritas lingkungan di Eropa. Selama bertahun-tahun, senyawa ini telah terdeteksi di perairan Jerman. Menurut Umweltbundesamt, sumber TFA bukan hanya berasal dari aktivitas industri, tetapi juga hasil degradasi berbagai pestisida dan bahan pendingin, misalnya yang digunakan dalam sistem penyejuk udara dan lemari pendingin.

Hingga kini, setidaknya 27 bahan aktif pestisida berbasis PFAS masih diizinkan penggunaannya di Jerman. “Temuan ini menegaskan urgensi pelarangan segera pestisida PFAS, baik di Jerman maupun di seluruh Uni Eropa,” kata Clausing.

Pada awal 2025, Umweltbundesamt mengusulkan peningkatan klasifikasi risiko TFA. Lembaga ini menilai zat tersebut berpotensi merusak perkembangan janin dan kemungkinan memengaruhi kesuburan. Namun, UBA menegaskan bahwa klasifikasi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan potensi bahaya, bukan risiko konkret dalam konsumsi sehari-hari yang sangat bergantung pada dosis paparan.

Presiden Institut Federal Jerman untuk Penilaian Risiko (BfR), Andreas Hensel, menyatakan bahwa efek toksik TFA sejauh ini baru terbukti pada uji hewan dengan konsentrasi jauh lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di lingkungan. Karena itu, menurutnya, konsumsi makanan atau air dengan kandungan TFA pada tingkat saat ini belum diperkirakan menimbulkan dampak kesehatan langsung. Meski demikian, ia menyebut klasifikasi baru tersebut sebagai langkah penting untuk mencegah risiko di masa depan.

Bersama Belanda, Denmark, Swedia, dan Norwegia, Jerman kini mendorong regulasi PFAS yang lebih ketat di tingkat Uni Eropa sebagai respons terhadap temuan ilmiah yang kian mengkhawatirkan.

Di Atas Ambang Batas

Dalam aturan Uni Eropa, kadar TFA di atas 0,01 miligram per kilogram sudah melampaui batas standar residu pestisida. PAN-Europe menilai kadar yang lebih tinggi dari ambang tersebut seharusnya tidak dapat diterima. Namun, dalam penelitian mereka, mayoritas produk justru menunjukkan angka yang jauh melampaui batas aman tersebut.

Uni Eropa sendiri baru pada Oktober 2025 menetapkan batas PFAS untuk busa pemadam kebakaran, yang akan berlaku mulai 2030. Sejumlah senyawa PFAS memang telah lama diawasi secara ketat, namun organisasi masyarakat sipil dan beberapa negara anggota terus mendesak agar regulasi diperluas mencakup seluruh kelompok PFAS, bukan hanya zat tertentu.

Saat ini, Badan Kimia Eropa dan Komite Penilaian Risiko tengah menyusun kajian ilmiah yang akan menjadi dasar proposal undang-undang Komisi Eropa pada 2027. Target jangka panjangnya cukup ambisius: larangan total PFAS dalam produk konsumen, yang kemungkinan mulai berlaku pada 2030 — tentu dengan syarat memperoleh persetujuan Parlemen Eropa dan negara-negara anggota Uni Eropa. (rio)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!