Samarinda, intuisi.co-Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2025 hanya 4,35 persen, terkontraksi dari tahun sebelumnya yakni 6,17 persen (year on year/yoy). Situasi itu rupanya turut memberikan pengaruh bagi laju pertumbuhan fiskal Bumi Mulawarman pada 2026.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim, Budi Widihartanto menerangkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi Kaltim terutama bersumber dari kinerja lapangan usaha pertambangan, dengan sektor batu bara menjadi faktor penekan utama.
Menurut Budi, target produksi batu bara pada 2025 ditetapkan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan target ini berdampak langsung pada moderasi laju pertumbuhan ekonomi daerah yang selama ini sangat ditopang oleh kinerja industri ekstraktif.
“Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kaltim utamanya disebabkan oleh termoderasinya pertumbuhan lapangan usaha pertambangan yang tercermin dari target produksi batu bara 2025 yang lebih rendah,” ujarnya pada Rabu (21/1/2026).
Tekanan terhadap sektor pertambangan tidak hanya datang dari sisi produksi, tetapi juga dipengaruhi kondisi eksternal. Permintaan batu bara dari negara mitra dagang utama, khususnya Tiongkok dan India, masih tertahan hingga saat ini dan belum menunjukkan pemulihan signifikan.

Budi menjelaskan bahwa perlambatan sektor manufaktur di Tiongkok akibat perang tarif dengan Amerika Serikat turut menekan kebutuhan energi negara tersebut. Kondisi ini berimbas langsung pada permintaan batu bara impor, termasuk dari Indonesia dan Kalimantan Timur.
Sementara itu, India mengambil kebijakan berbeda dengan mendorong optimalisasi produksi batu bara domestik guna memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya. Kebijakan tersebut membuat permintaan impor batu bara dari negara lain, termasuk Indonesia, menjadi lebih terbatas.
“Permintaan ekspor batu bara dari negara mitra strategis masih tertahan, terutama dari Tiongkok dan India,” kata Budi.
Selain faktor global, kebijakan di dalam negeri juga turut memengaruhi kinerja sektor pertambangan. Upaya optimalisasi produksi nasional, diikuti dengan percepatan transisi menuju energi terbarukan, membuat pertumbuhan sektor tambang tidak seagresif pada tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, Budi menilai permintaan domestik batu bara masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari peningkatan target Domestic Market Obligation (DMO) batu bara pada 2025 yang ditetapkan pemerintah.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target DMO batu bara sebesar 239,7 juta ton. “Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan target tahun sebelumnya yang sebesar 181,3 juta ton,” sebutnya.

Lalu bagaimana dengan proyeksi ekonomi Kaltim pada 2026?
Bank Indonesia sendiri memperkirakan pertumbuhan fiskal Benua Etam tahun ini bakal tumbuh lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Sikap optimistis tersebut ditopang oleh meningkatnya aktivitas industri pengolahan, berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta masuknya investasi baru di berbagai sektor strategis yang mulai memperkuat struktur ekonomi daerah.
“Meski tekanan global masih membayangi, fondasi ekonomi Kaltim relatif solid untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tahun ini,” imbuh Budi.
Lebih lanjut dia menguraikan, sektor industri pengolahan diproyeksikan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2026. Salah satu pendongkraknya adalah penambahan kapasitas refinery minyak dan gas (migas) sekitar 50 ribu barel per hari yang dijadwalkan mulai beroperasi pada triwulan III 2026. Dengan kata lain, ke depannya eksplorasi ini bakal memberikan dampak nyata untuk peningkatan produksi dan kinerja industri turunan pada tahun depan.
“Ekspor berbagai produk industri olahan diperkirakan ikut bertumbuh seiring hadirnya industri smelter baru. Situasi ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim,” sebutnya.
Dari sektor konstruksi, lanjutnya, keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) masih dipandang sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Kaltim. Sepanjang 2026, sejumlah proyek strategis dijadwalkan berjalan, terutama pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif yang menjadi bagian penting dalam tahapan lanjutan pemindahan pusat pemerintahan nasional.

Seiring itu, anggaran pembangunan di sektor konstruksi—khususnya yang berkaitan langsung dengan proyek IKN—diproyeksikan meningkat sekitar 6 persen dibandingkan pada 2025.
“Dorongan pertumbuhan juga datang dari investasi swasta yang masuk ke Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang diprediksi mampu memperkuat kinerja sektor konstruksi sekaligus memperluas multiplier effect bagi perekonomian daerah pada 2026,” sebutnya.
Setali tiga uang, sebut Budi, sektor pertanian juga sejatinya memberikan kontribusi positif. Bank Indonesia memproyeksikan sektor ini tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Kaltim, seiring peningkatan target optimalisasi lahan (oplah) hingga mencapai 3.000 hektare. Upaya tersebut didukung oleh keberlanjutan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta langkah penguatan ketahanan pangan di tingkat daerah.
Sementara itu, sektor industri pengolahan diproyeksikan berperan sebagai penyeimbang atas melemahnya kinerja pertambangan, khususnya komoditas batu bara, yang masih tertekan oleh tren penurunan permintaan global. Bank Indonesia mencatat permintaan batu bara dunia, terutama dari Tiongkok, diperkirakan mengalami penurunan sekitar 1,49 persen secara tahunan (yoy) seiring percepatan transisi menuju penggunaan energi terbarukan.

Walaupun prospek ekonomi Kalimantan Timur ke depan dinilai cukup menjanjikan, BI tetap mengingatkan adanya sejumlah tantangan eksternal yang perlu diantisipasi. Selain melemahnya permintaan komoditas global, perlambatan ekonomi dunia serta penyesuaian anggaran pembangunan juga berpotensi menjadi faktor risiko bagi kinerja ekonomi daerah.
Meski demikian, Budi Widihartanto, menegaskan bahwa semakin beragamnya struktur ekonomi Kaltim menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sekaligus kesinambungan pertumbuhan ke depan.
“Dengan penguatan industri, pembangunan IKN, serta masuknya investasi baru, ekonomi Kaltim diyakini tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan pada 2026,” tutupnya. (rio/nar)



