Debit Mahakam Naik, Pemerintah Minta Warga Siap Siaga

intuisi

1 Mei 2025 17:36 WITA

Banjir kembali merendam sejumlah ruas jalan utama dan wilayah permukiman di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. (Intuisi.co)

Tenggarong, intuisi.co- Hujan deras yang mengguyur wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di Kecamatan Tenggarong. Genangan air muncul di sejumlah titik strategis, mengganggu aktivitas warga dan arus lalu lintas.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa genangan mencapai lutut orang dewasa di beberapa lokasi. Kendaraan roda dua dan empat harus ekstra hati-hati melintas, bahkan sebagian pengendara terpaksa memutar arah untuk mencari jalur alternatif.

Sejumlah ruas jalan terdampak antara lain Jalan Wolter Monginsidi, Belida, Ahmad Yani, KH Dewantara, Teratai, hingga kawasan Kelurahan Mangkurawang. Selain jalan protokol, air juga mulai masuk ke halaman rumah warga di beberapa RT di Kelurahan Timbau, Loa Ipuh, dan Mangkurawang.

Camat Tenggarong, Sukono, menyatakan bahwa seluruh jajaran pemerintahan dan relawan telah disiagakan untuk merespons cepat situasi darurat ini. “Pemerintah ingin masyarakat tetap waspada. Kondisi Sungai Mahakam masih tinggi dan bisa berpotensi meningkat jika hujan terus turun di hulu,” ujarnya, Kamis (1/5/2025).

Koordinasi lintas instansi telah dilakukan, melibatkan BPBD Kukar, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, aparat keamanan, dan Satpol PP. Langkah antisipatif termasuk pemantauan titik banjir secara berkala, pengiriman laporan dari kelurahan setiap pagi dan sore, serta imbauan melalui media sosial agar warga tidak panik namun tetap bersiap.

Dampak banjir juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Beberapa pedagang kaki lima dan pemilik toko di sekitar Jalan Ahmad Yani dan Teratai mengeluhkan penurunan pembeli.

“Saya sudah dua hari tutup karena air masuk sampai depan warung,” kata Rika, salah satu pedagang di Jalan Teratai.

Sukono menilai bahwa banjir kali ini menjadi pengingat pentingnya solusi jangka panjang. Meski perbaikan drainase telah dilakukan, sistem pengelolaan air di Tenggarong masih belum cukup tangguh menghadapi luapan Sungai Mahakam. “Kita butuh strategi besar, termasuk pengendalian banjir berbasis kawasan dan peninggian tanggul di titik rawan,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, pihak kecamatan akan mengusulkan peninjauan ulang terhadap masterplan pengendalian banjir agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan intensitas hujan yang makin tinggi.

Di tengah situasi darurat, solidaritas warga tetap terjaga. Perangkat kelurahan, RT, dan relawan bergerak cepat membantu evakuasi ringan, distribusi informasi, dan pengamanan lingkungan.

“Kami apresiasi RT dan tokoh masyarakat yang langsung aktif saat air naik. Sinergi inilah yang membuat kami yakin, Tenggarong bisa menghadapi ini dengan kuat,” tutup Sukono. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!