Investasi Kukar Tembus 4.000 Perusahaan Menengah-Besar

intuisi

15 Agu 2025 15:45 WITA

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan Daerah (DPPR) Kukar, Alfian Noor saat ditemui awak media. (Intuisi.co)

Tenggarong, intuisi.co– Perkembangan dunia investasi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, terus menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 4.000 perusahaan menengah dan besar yang aktif beroperasi di wilayah ini.

Data tersebut dirilis oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar. Jumlah itu belum termasuk lebih dari 40 ribu unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh kecamatan.

Sebagian besar dari perusahaan menengah dan besar tersebut bergerak di sektor primer atau ekstraktif, seperti pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, dan pertanian. Ketiga sektor ini masih menjadi tulang punggung perekonomian Kukar.

“Kalau dilihat dari jenis investasinya, sektor primer masih mendominasi. Perusahaan-perusahaan besar dengan modal besar banyak bergerak di bidang tambang, perkebunan, dan komoditas pertanian,” ujar Kepala DPMPTSP Kukar, Alfian Noor, Jumat (15/8/2025). Sedangkan UMKM, lanjutnya, jumlahnya mencapai 90 persen dari total pelaku usaha, umumnya beroperasi di sektor sekunder dan tersier.

Ia menjelaskan bahwa investor tidak hanya berasal dari korporasi besar, tetapi juga individu atau kelompok yang menanamkan modal sesuai skala usaha. Perbedaan utama terletak pada besaran modal, cakupan operasional, dan sektor yang digeluti.

Peta sebaran investasi di Kukar mencakup seluruh kecamatan, meskipun jumlah pelaku usaha berbeda-beda. Wilayah yang dekat dengan jalur distribusi utama atau pelabuhan cenderung memiliki konsentrasi investasi di sektor industri dan perdagangan. Sementara itu, daerah pedesaan lebih banyak mengandalkan usaha berbasis sumber daya alam.

Meski sektor ekstraktif masih dominan, DPMPTSP melihat peluang besar untuk mengembangkan sektor non-ekstraktif. Potensi ini mencakup hilirisasi industri, pembangunan kawasan industri, penyediaan infrastruktur strategis melalui skema kerja sama investasi, serta optimalisasi aset daerah oleh swasta dan BUMD.

“Target kami ke depan adalah mengarahkan investasi pada hilirisasi industri, sektor jasa, dan industri pengolahan. Kami juga ingin memperkuat sektor yang memberikan nilai tambah di daerah, bukan hanya mengandalkan pengolahan sumber daya mentah,” tegas Alfian.

Di sisi lain, menjaga iklim usaha yang kondusif juga menjadi prioritas. Pemerintah daerah terus menyiapkan kebijakan insentif bagi investor, memberikan penghargaan kepada pelaku usaha berprestasi, serta memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai regulasi dan tetap ramah lingkungan.

Dengan dukungan kebijakan dan jumlah pelaku usaha yang besar, Alfian optimistis Kukar mampu menarik lebih banyak investor berkualitas yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

“Kami ingin investasi tidak hanya tumbuh dari sisi angka, tetapi juga dari sisi kualitas dan dampaknya terhadap perekonomian lokal,” tandasnya.

Langkah penguatan sektor non-ekstraktif diharapkan mampu memperluas lapangan kerja dan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di 20 kecamatan. Dengan demikian, potensi daerah dapat tergarap maksimal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif secara bertahap. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!