Protes Iran Kian Mencekam, Korban Tewas 646 Orang

intuisi

13 Jan 2026 22:05 WITA

Iran
Situsi arus gelombang protes di Iran. (Kwabena Oduro/CBC/istimiewa)

Samarinda, intuisi.co-Situasi Iran kian mencekam. Gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang negara ini tak belum berhenti dalam dua pekan terakhir. Situasi tersebut menjadi salah satu episode paling berdarah dalam sejarah modern negara tersebut.

Penindakan keras aparat keamanan terhadap demonstran dilaporkan menewaskan sedikitnya 646 orang, memicu kekhawatiran luas komunitas internasional terhadap memburuknya situasi hak asasi manusia di negara itu.

Negara timur tengah ini diguncang aksi protes sejak akhir Desember tahun lalu. Unjuk rasa pertama kali pecah pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar Teheran, ketika para demonstran — yang sebagian besar merupakan pedagang dan pemilik toko — memprotes memburuknya kondisi ekonomi nasional. Depresiasi tajam mata uang Rial memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat.

Dalam waktu singkat, aksi tersebut menyebar ke berbagai kota dan wilayah lain di negara ini. Protes yang awalnya berfokus pada isu ekonomi kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, secara terbuka menantang pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Seiring meluasnya unjuk rasa, eskalasi kekerasan pun tak terhindarkan. Dalam beberapa hari terakhir, aksi protes diwarnai bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, pembubaran paksa, serta penangkapan massal. Hingga kini, pemerintah setempat belum pernah mengumumkan angka resmi korban jiwa secara keseluruhan.

Meski demikian, data terbaru dari kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menunjukkan gambaran yang jauh lebih suram. Seperti dilansir Associated Press, Selasa (13/1/2026), HRANA melaporkan sedikitnya 646 orang tewas akibat penindakan keras aparat terhadap demonstran.

Dari jumlah tersebut, 512 orang diidentifikasi sebagai warga sipil atau demonstran, sementara 134 lainnya merupakan anggota pasukan keamanan. Selain korban tewas, lebih dari 1.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka, baik akibat tembakan, pemukulan, maupun bentrokan di lapangan.

HRANA juga mencatat lonjakan besar jumlah penahanan selama gelombang unjuk rasa berlangsung. Lebih dari 10.700 orang dilaporkan ditahan dalam dua pekan terakhir. Penangkapan itu terjadi di sedikitnya 585 lokasi di seluruh kawasan ini, mencakup 186 kota yang tersebar di semua 31 provinsi.

Data Protes Iran Diperoleh Valid di Lapangan

Iran
Potret pasar dan kios pedagang setempat. (Vahid Salemi/The Associated Press)

Kelompok HAM tersebut menyebutkan bahwa data dikumpulkan melalui jaringan pendukung yang melakukan verifikasi silang atas laporan korban dan penahanan. HRANA dikenal sebagai salah satu sumber yang rekam jejaknya dinilai akurat dalam melaporkan kerusuhan dan gelombang protes besar di negara ini pada tahun-tahun sebelumnya.

Laporan terbaru HRANA itu disampaikan pada Selasa (13/1) pagi. Namun, proses pengumpulan data dari dalam negara timur tengah ini semakin sulit. Pemerintah setempat dilaporkan mematikan layanan internet dan memutus sejumlah saluran komunikasi sejak pekan lalu, sehingga arus informasi dari dalam negeri sangat terbatas.

Pemadaman informasi ini membuat pemantauan situasi di lapangan menjadi semakin rumit. Associated Press menyebutkan hingga kini mereka belum dapat secara independen memverifikasi jumlah korban tewas maupun luka-luka akibat unjuk rasa tersebut.

Mereka yang berada di luar negara ini menyuarakan kekhawatiran bahwa pembatasan informasi justru membuka ruang lebih besar bagi kelompok garis keras di dalam aparat keamanan untuk meningkatkan tindakan represif. Sejumlah video yang beredar secara daring menunjukkan unjuk rasa masih berlangsung pada Minggu (11/1) malam hingga Senin (12/1) waktu setempat.

Seorang pejabat Teheran bahkan mengakui masih terjadinya aksi unjuk rasa dalam pernyataannya di media pemerintah. Pernyataan ini menepis klaim bahwa situasi telah sepenuhnya kondusif. Namun, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan penilaian berbeda. Saat berbicara di hadapan para diplomat asing di Teheran, Araghchi menegaskan bahwa “situasi telah sepenuhnya terkendali”.

Dalam kesempatan itu, Araghchi menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas tindak kekerasan yang terjadi selama unjuk rasa, meski tidak menyertakan bukti pendukung atas tuduhan tersebut.

Gelombang protes yang belum sepenuhnya mereda, tingginya jumlah korban jiwa, serta pemadaman informasi yang berkepanjangan menempatkan negara ini dalam sorotan tajam dunia internasional. Sejumlah pengamat menilai situasi ini berpotensi berkembang menjadi krisis politik dan kemanusiaan terbesar yang dihadapi Teheran dalam beberapa dekade terakhir. (dtk/rio)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!