Jembatan Baru Siap Sambungkan Pusat Kota Tenggarong

intuisi

4 Agu 2025 12:56 WITA

Jembatan Besi Tenggarong yang menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur strategis kota. (Intuisi.co)

Tenggarong, intuisi.co– Pembangunan jembatan pendamping Jembatan Besi di Tenggarong resmi dimulai. Proyek ini menggunakan teknologi girder baja yang diklaim mampu bertahan hingga satu abad, sekaligus menjadi penghubung strategis baru di pusat kota tanpa mengorbankan nilai sejarah jembatan lama.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) menargetkan proyek ini rampung pada akhir 2025, dengan masa pengerjaan selama 10 bulan oleh kontraktor asal Aceh. Jembatan baru akan dibangun sekitar 100 meter dari posisi Jembatan Besi yang lama, menghubungkan Jalan Danau Semayang hingga Jalan Monumen Barat.

Rencana pembangunan ini juga menjadi bagian dari integrasi kawasan strategis yang mencakup Jalan Kertanegara, Bundaran Masjid Agung Sultan Sulaiman, hingga Jalan Kartini. Kawasan tersebut dirancang sebagai koridor lalu lintas utama yang mendukung efisiensi arus kendaraan dan konektivitas antarwilayah di Tenggarong.

Secara teknis, jembatan pendamping ini memiliki panjang sekitar 30 meter dan akan menggunakan struktur girder sebagai tulang punggungnya. Girder merupakan balok horizontal besar berbahan besi atau baja yang berfungsi menahan beban lalu lintas dan menyalurkannya ke struktur bawah jembatan.

Pemilihan girder dalam proyek ini bertujuan memastikan kekuatan, daya tahan, dan keamanan konstruksi, baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menekankan pentingnya mutu dalam pengerjaan.

“Saya sudah sampaikan kepada kontraktor agar pengerjaan dilakukan sesuai ketentuan, selesai tepat waktu, bermutu, dan bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga tidak akan ada temuan,” ujarnya, Senin (4/8/2025).

Sebelumnya, Pemkab Kukar sempat merencanakan rehabilitasi terhadap Jembatan Besi yang telah berdiri sejak era kolonial. Namun setelah melalui evaluasi dan mendengar masukan dari berbagai pihak, rencana tersebut dibatalkan karena belum mempertimbangkan secara menyeluruh dimensi sosial dan historis jembatan tersebut.

Sebagai solusi, pemerintah memutuskan membangun jembatan baru sebagai alternatif, sambil tetap mempertahankan Jembatan

Besi sebagai situs sejarah. Langkah ini mendapat apresiasi dari Bupati Kukar yang menilai Dinas PU telah melakukan pendekatan partisipatif dengan melibatkan tokoh masyarakat dan budayawan dalam proses perencanaan.

Jembatan Besi Tenggarong sendiri memiliki nilai sejarah tinggi. Dibangun pertama kali pada masa penjajahan Belanda, jembatan ini kemudian direnovasi menjadi jembatan besi di era pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit. Selama lebih dari seratus tahun, jembatan ini menjadi penghubung vital antara Kelurahan Melayu dan Kelurahan Panji di pusat kota.

Karena nilai historisnya, jembatan tersebut akan dijadikan jalur khusus pejalan kaki. Selain berfungsi sebagai cagar budaya, keberadaannya juga dipertahankan sebagai daya tarik wisata sejarah di Kukar. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!