Kampung Tenun Samarinda Didorong Tembus Pasar Global

intuisi

2 Apr 2026 11:20 WITA

Kampung Tenun Samarinda
Lokasi Kampung Tenun Samarinda Seberang di Kelurahan Baka. (istimewa)

Samarinda, intuisi.co Kampung Tenun Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki potensi besar menembus pasar global. Wadah ekonomi kreatif ini disebut tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sarat identitas budaya. Hingga kini ekonomi Benua Etam masih ditopang 50 persen oleh batu baru, minyak serta gas (migas).

Namun demikian, sektor ekonomi kreatif perlahan menunjukkan tren pertumbuhan yang kian menjanjikan. Dari catatan Pemprov Kaltim kontribusinya mencapai Rp30 triliun atau setara 5,6 persen dari total perputaran ekonomi daerah. Dominasi sektor ini masih ditopang oleh subsektor kuliner, kriya, dan fesyen. 

Kampung Tenun Samarinda sendiri kembali masuk ke dalam program Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM (Bima Etam) Seri ke-11 dari Bank Indonesia. “Kami (Bank Indonesia) telah mendukung pengembangan Kampung Tenun Samarinda sejak tahun 2014 melalui berbagai program,” ujar Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Bayuadi Hardiyanto.

Dia pun menguraikan program-program tersebut antara lain, pembinaan UMKM tenun dan produk turunannya, perbaikan galeri dan showcase UMKM, serta dukungan pada atraksi di Desa Wisata Kampung Tenun. Pada tahun 2026, dukungan tersebut dilanjutkan melalui penguatan program UMKM subsisten, UMKM hijau, dan UMKM pariwisata guna mendorong ekosistem usaha yang semakin tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

“Kaltim memiliki potensi pariwisata yang besar, melengkapi kekayaan alamnya yakni dari warisan budaya, termasuk Kampung Tenun Samarinda,” tegasnya lagi.

Dia menuturkan, pengembangan pariwisata berkelanjutan dan UMKM dipandang menjadi salah satu kunci penting bagi masa depan perekonomian Kaltim agar semakin beragam. Penguatan desa wisata dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menciptakan lapangan kerja hingga meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Di sisi lain bisa juga memperkuat identitas budaya daerah,” jelasnya.

Sepanjang pelaksanaannya, kata dia, program ini telah diikuti oleh 833 UMKM dan berhasil menyalurkan pembiayaan produktif kepada 163 UMKM dengan total nilai mencapai Rp16,97 miliar.

Pada 2026, dukungan Bank Indonesia tersebut melanjutkan penguatan program UMKM subsisten, UMKM hijau, dan UMKM pariwisata, guna mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Kampung Tenun Samarinda Membangun Ekonomi Daerah

kampung tenun Samarinda
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Bayuadi Hardiyanto (kacamata tengah) bersama pejabat Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda. (istimewa)

Terpisah, Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang III (Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat), Arief Murdiyatno menerangkan, program Bank Indonesia ini merupakan langkah nyata dalam membangun ekonomi daerah yang tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga mengedepankan potensi budaya lokal.

“Kampung Tenun Samarinda kini ditetapkan sebagai model rujukan pengembangan desa wisata berbasis budaya di Kaltim,” terangnya.

Pengembangan ini, sambung dia, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, serta mendorong pelaku UMKM untuk naik kelas. Menurutnya, penguatan sektor ini tidak dapat dilepaskan dari dukungan infrastruktur dan aksesibilitas yang memadai. 

“Konektivitas transportasi, baik darat, laut, maupun udara, termasuk keterjangkauan biaya perjalanan menuju destinasi wisata, menjadi faktor kunci dalam menarik kunjungan wisatawan,” sebutnya.

Lebih jauh, Arief menegaskan bahwa Kampung Tenun tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi kain, melainkan juga sebagai ruang pelestarian identitas dan budaya lokal yang harus dijaga keberlanjutannya melalui regenerasi.

“Kampung Tenun Samarinda bukan sekadar tentang kain, melainkan tentang identitas, budaya, dan masa depan ekonomi masyarakat yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan nilai tambah produk tenun agar mampu bersaing di pasar nasional maupun global. “Produk tenun tidak cukup hanya diposisikan sebagai komoditas tekstil, tetapi harus dipandang sebagai produk budaya bernilai tinggi,” ujar dia.

Di sisi lain, Asisten II (Bidang Ekonomi dan Pembangunan) Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas, menegaskan bahwa pengembangan Kampung Tenun merupakan kelanjutan dari program yang telah berjalan sebelumnya.

Pemerintah Kota Samarinda terus melakukan penataan kawasan agar memiliki identitas yang kuat sebagai destinasi wisata unggulan. Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembangunan dermaga untuk mendukung wisata susur Sungai Mahakam, serta penguatan branding kawasan.

“Harapannya Kampung Tenun benar-benar menjadi destinasi wisata, dengan penataan kawasan, dukungan infrastruktur, serta peningkatan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dengan sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta pelaku UMKM, Kampung Tenun Samarinda diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis budaya di Kaltim.

“Selain itu juga diperlukan dukungan teknologi, seperti penggunaan mesin produksi, guna meningkatkan output tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khas Kampung Tenun Samarinda,” pungkasnya. (*) 

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!