Samarinda, intuisi.co-Penemuan lukisan arkeologi dari Indonesia kembali mengguncang peta sejarah peradaban manusia dunia. Tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University (SCU) mengungkap lukisan cadas tertua yang pernah diketahui, sekaligus narasi visual paling awal dalam sejarah umat manusia.
Lukisan tersebut ditemukan di sebuah gua kapur bernama Leang Karampuang, kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Seni cadas itu menggambarkan tiga figur menyerupai manusia yang tengah berinteraksi dengan seekor babi hutan. Berdasarkan analisis terbaru, lukisan ini diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun, menjadikannya lukisan gua tertua yang pernah tercatat, baik di Indonesia maupun di dunia.
Ketua Tim Peneliti yang juga ahli seni cadas Indonesia dari BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menjelaskan bahwa penentuan usia lukisan dilakukan dengan pendekatan ilmiah mutakhir. Tim mengaplikasikan metode ablasi laser uranium-series (laser ablation uranium-series/LA-U-series) untuk memperoleh pertanggalan yang sangat presisi.
“Hasil analisis menunjukkan bahwa seni hias di bawah lapisan tersebut memiliki pertanggalan paling awal sekitar 51.200 tahun yang lalu. Sehingga, hal tersebut membuatnya sebagai gambar hias gua tertua di dunia, sekaligus narasi seni paling awal yang pernah ditemukan dan diteliti hingga saat ini,” kata Adhi dalam rilis BRIN yang diterima media ini pada Sabtu (24/1/2026).

Adhi menjelaskan bahwa usia tertua itu berasal dari salah satu figur manusia dalam lukisan tersebut. “Yang paling tua umurnya itu di figur manusia kedua, sekitar 51.200 tahun yang lalu, di depan gambar daging. Jadi seperti dia sedang memegang material culture atau misalnya tali atau tongkat panjang ke arah gambar babinya,” bebernya.
Temuan ini semakin menarik karena adanya lapisan gambar yang lebih tua di bawah lukisan utama. Menurut Adhi, terdapat cap tangan yang dibuat sebelum penggambaran sosok babi. “Jadi umurnya mungkin lebih tua lagi dari 51.000 tahun. Jadi ada overlay di bawah gambar babi,” tambah dia.
Bagi Adhi, lukisan cadas ini memiliki arti penting bagi pemahaman tentang kemampuan kognitif manusia purba. Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa manusia 50.000 tahun lalu sudah mampu berkomunikasi melalui gambar yang bersifat naratif atau bercerita.
“Publikasi ini juga semakin menegaskan bahwa gambar di Nusantara, khususnya di Wallacea, sudah lebih kompleks dibanding pemikiran kita sebelumnya — bahwa gambar di Eropa lebih mendominasi, lebih bagus — ternyata di sini, tuh, lebih bagus lagi,” ungkapnya.

Lukisan Tertua di Dunia Jadi Katalog Pengetahuan Dunia
Dari sisi metodologi, penggunaan teknik laser ablation juga dinilai membawa terobosan penting dalam dunia arkeologi. “Empat hal itu saja sudah memberikan nilai tambah bagi pengetahuan di dunia,” ujar Adhi, merujuk pada akurasi, kecepatan, efisiensi biaya, dan presisi metode tersebut.
Lebih lanjut, Adhi menjelaskan bahwa kerja sama riset antara lembaga Indonesia dan Australia ini bukan hal baru. Kolaborasi antara BRIN — yang sebelumnya berada di bawah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional — dengan Griffith University telah terjalin sejak 2013.
“Jadi ada publikasi di 2014, yang terakhir di 2024 ini yang di Leang Karampuang,” kata Adhi, yang saat ini tengah menjalani program doktoral (PhD) di Griffith Centre for Social and Cultural Research (GCSCR).
Wilayah Maros-Pangkep dipilih karena merupakan kawasan dengan konsentrasi situs seni cadas tertinggi di Indonesia. Adhi menyebut, kawasan ini memiliki hampir 500 situs gambar cadas yang telah teridentifikasi.
Setelah pengambilan sampel di lapangan, analisis laboratorium dilakukan di SCU. Penelitian tersebut kemudian menghasilkan kajian berjudul “Seni Gua Narasi di Indonesia 51.200 Tahun Lalu” yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature.

“Untuk pengambilan sampelnya itu sendiri 44 mikron. Kalau kita tahu itu mungkin 40 kali lebih kecil dibanding lapisan rambut kita, menjadi lebih detail, lebih hemat, dan lebih mendekati ke area pigmen gambar cadas, juga lebih akurat,” tegas Adhi.
Metode LA-U-series ini dikembangkan oleh Maxime Aubert, profesor dan ahli arkeologi di GCSCR, bersama rekannya dari SCU di Lismore, Renaud Joannes-Boyau, profesor dan ahli arkeogeokimia dari Geoarchaeology and Archaeometry Research Group (GARG).
“Kami sebelumnya telah menggunakan metode berbasis uranium untuk mencari umur seni cadas di wilayah Sulawesi dan Kalimantan. Namun teknik LA-U-series ini menghasilkan data yang lebih akurat karena mampu mendeteksi umur lapisan kalsium karbonat dengan sangat rinci hingga mendekati masa pembuatan seni hias tersebut. Penemuan ini akan merevolusi metode analisis pertanggalan seni cadas,” ucap Aubert.
Selain temuan di Leang Karampuang, tim peneliti juga melakukan pertanggalan ulang terhadap lukisan gua di situs Leang Bulu’ Sipong 4, yang juga berada di kawasan Maros-Pangkep. Lukisan ini menampilkan adegan figur yang diinterpretasikan sebagai therianthropes — makhluk setengah manusia dan setengah hewan — yang sedang berburu babi rusa dan anoa.
Sebelumnya, lukisan di Leang Bulu’ Sipong 4 diperkirakan berusia sekitar 44.000 tahun. Namun, dengan metode terbaru, usia lukisan tersebut direvisi menjadi sekitar 48.000 tahun, atau 4.000 tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Temuan-temuan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting evolusi seni dan simbolisme manusia purba, sekaligus menantang dominasi narasi lama yang menempatkan Eropa sebagai pusat awal perkembangan seni manusia. (brn/rio)



