5.000 Warga Kukar Masih Buta Aksara, Pemkab Genjot Program Keaksaraan

intuisi

26 Agu 2025 10:17 WITA

Ilustrasi warga belajar agar tidak buta aksara. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co- Persoalan buta aksara masih menjadi tantangan besar di tengah kemajuan pembangunan dan program pendidikan yang terus digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Meski berbagai inisiatif telah dijalankan, data terbaru menunjukkan bahwa sedikitnya 5.000 warga Kukar belum memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.

Kelompok usia lanjut menjadi yang paling terdampak. Sebagian besar dari mereka tidak sempat mengenyam pendidikan formal sejak kecil karena berbagai keterbatasan. Ada yang tinggal di daerah terpencil dengan akses sekolah yang sulit dijangkau, dan ada pula yang lebih memilih bekerja membantu orang tua daripada duduk di bangku sekolah.

Plt Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pujianto, menyebut bahwa mendata angka buta aksara bukan hal yang mudah. Menurutnya, tidak semua warga yang belum pernah bersekolah otomatis tidak bisa membaca.

“Bisa jadi mereka memiliki kemampuan dasar, tetapi tidak tercatat dalam sistem pendidikan formal,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).

Jika mengacu pada indikator resmi, jumlah warga buta aksara memang cukup besar. Namun, mayoritas berasal dari kelompok usia di atas 50 tahun.

Meski demikian, fenomena ini juga ditemukan pada anak-anak usia sekolah yang tidak terdata karena memilih jalur pendidikan non-formal seperti pondok pesantren.

Untuk menekan angka tersebut, Disdikbud Kukar telah menggulirkan berbagai program keaksaraan melalui lembaga pendidikan non-formal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

Program ini terbagi menjadi dua: keaksaraan dasar dan keaksaraan usaha mandiri.

Program keaksaraan dasar memberikan bekal kemampuan membaca dan menulis serta sertifikat SUKMA jenjang dasar. Sementara itu, keaksaraan mandiri memberikan sertifikat SUKMA lanjutan yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta dan menjadi pengakuan resmi atas kemampuan mereka.

Pujianto juga menyoroti tantangan pola pikir masyarakat. Banyak warga yang enggan melanjutkan pendidikan karena merasa lebih penting mencari nafkah.

“Mindset ini menjadi salah satu penyebab utama kenapa angka buta aksara sulit ditekan,” tegasnya.

Pemerintah berharap, melalui sinergi antara pendidikan formal dan non-formal, jumlah warga buta aksara di Kukar dapat terus berkurang. Upaya ini tidak hanya menyasar generasi muda, tetapi juga memberikan kesempatan bagi kelompok usia lanjut untuk menikmati hak dasar pendidikan yang layak. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!