Fitri Wahyuningsih Terpilih Jadi Koordinator SIEJ Simpul Kaltim

intuisi

14 Apr 2026 22:12 WITA

Fitri
Koordinator SIEJ Simpul Kaltim 2026-2029, Fitri Wahyuningsih. (Foto Istimewa)

Samarinda, intuisi.co– Fitri Wahyuningsih, jurnalis perempuan yang dikenal konsisten mengawal isu-isu agraria dan lingkungan, terpilih menjadi Koordinator Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Kaltim periode 2026-2029. Fitri akan memimpin organisasi jurnalis lingkungan tersebut selama tiga tahun ke depan.

Fitri mengawali karier jurnalistiknya pada 2019 di media lokal Klikbontang.com (sekarang Klikkaltim.com). Selama hampir dua tahun, ia meliput berbagai isu perkotaan di Bontang, mulai dari politik, pendidikan, hingga kriminalitas.

Pada 2020, ia bergabung dengan Bontangpost.id (Kaltim Post Group). Di sana, ia mulai mendalami penulisan feature dan memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk juara satu lomba menulis #AkuDanMangrove pada 2021 yang diselenggarakan WRI Indonesia, AJI Jakarta, dan Yayasan Lahan Basah.

Karier Fitri berlanjut ke media berbasis di Samarinda, Kaltimtoday.co, sejak Februari 2023. Ia fokus pada liputan mendalam (indepth) dan investigasi terkait isu lingkungan, transisi energi, masyarakat adat, serta HAM di wilayah Kaltim, termasuk IKN dan Penajam Paser Utara (PPU).

Dua laporan investigasinya mengenai dampak pembangunan IKN dan pemanfaatan lubang tambang di Bontang mendapat apresiasi dari ICW sebagai Liputan Investigasi Terbaik dan Pemilihan Isu Terbaik pada 2023 dan 2024.

Usai terpilih, Fitri menyatakan bahwa memimpin SIEJ Simpul Kaltim merupakan tanggung jawab besar, terutama dalam meningkatkan eksistensi organisasi di kalangan jurnalis.

“Tugas kami di SIEJ Simpul Kaltim ini cukup banyak, tapi yang paling mendesak adalah menggaungkan nama organisasi ini. Karena harus diakui, bahkan di kalangan jurnalis masih banyak yang belum tahu SIEJ itu apa,” kata Fitri, Selasa (14/4/2026).

Fitri menyampaikan, saat ini masih banyak persoalan lingkungan di Kaltim yang membutuhkan atensi media. Mulai isu kenaikan suhu ekstrem di berbagai wilayah di Kaltim, kematian di lubang bekas tambang (void), dampak pertambangan batu bara dan pencemaran sungai, sawit, dampak ekologi pembangunan IKN, krisis pengelolaan sampah, hingga kerusakan kawasan maritim. Ia menyadari meliput isu lingkungan bukan perkara mudah karena membutuhkan pemahaman khusus, biaya tinggi, dan memiliki risiko.

“Tapi saya kira sebagai jurnalis kita berusaha menggerakkan sesuatu di masyarakat dan bumi tempat kita hidup. Kita perlu menggerakkan semua orang untuk lebih sadar soal lingkungan hidup, penyelamatan SDA, atau bergerak untuk tindakan iklim,” ujarnya.

Ia berharap SIEJ Simpul Kaltim dapat menjadi wadah bagi jurnalis untuk belajar dan tumbuh bersama dalam mengawal isu-isu lingkungan di Kaltim.

“Semoga dalam organisasi ini kita bisa belajar bergerak dan tumbuh bersama, serta menghidupi organisasi ini dengan riang gembira,” tutupnya. (*)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!