Tenggarong, intuisi.co– Di tengah gempuran modernisasi dan urbanisasi, Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, memilih jalur berbeda: menghidupkan kembali nilai-nilai pertanian melalui agrowisata berbasis sawah.
Alih-alih membangun taman buatan atau gedung tinggi, wilayah ini mengubah hamparan sawah menjadi ruang wisata edukatif yang menyatu dengan alam dan budaya lokal.
Inisiatif ini digagas oleh Plt Lurah Bukit Biru, Sri Herlinawati, yang melihat potensi besar di balik lanskap persawahan yang selama ini hanya dikenal sebagai lumbung pangan. Menurutnya, sawah bukan sekadar tempat menanam padi, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan nilai budaya, ekologi, dan edukasi lintas generasi.
“Kami ingin mengembalikan hubungan masyarakat—baik lokal maupun pengunjung, dengan nilai-nilai pertanian yang mulai terlupakan. Sawah adalah ruang budaya dan edukasi,” ujar Sri Herlinawati, Sabtu (28/6/2025).
Melalui konsep agrowisata edukatif, pengunjung akan diajak merasakan pengalaman otentik seperti menanam padi, mengenal sistem irigasi tradisional, mencoba alat tanam manual, hingga menikmati kuliner khas kampung di gazebo yang dibangun di tepi pematang.
“Bayangkan anak-anak kota bisa turun ke lumpur, menanam padi, dan mengenal siklus tanam. Itulah edukasi berbasis alam yang ingin kami hidupkan,” tambahnya.
Program ini tidak hanya menyasar wisatawan, tetapi juga menjadi strategi memperkuat identitas lokal dan membangun kesadaran ekologis warga. Warga Bukit Biru dilibatkan secara aktif: petani menjadi mentor bertani, ibu rumah tangga menyediakan makanan lokal, dan pemuda desa disiapkan sebagai pemandu wisata serta pengelola homestay.
Semua dirancang untuk menciptakan siklus ekonomi sirkular yang tumbuh dari desa dan kembali ke desa. “Kami ingin warga menjadi subjek pembangunan wisata, bukan sekadar penonton. Ini peluang ekonomi sekaligus cara menjaga tradisi bertani tetap hidup,” tegas Sri Herlinawati.
Kelurahan Bukit Biru juga menjalin sinergi dengan Dinas Pariwisata Kukar dan berbagai pihak terkait agar pengembangan agrowisata ini terintegrasi dalam peta pariwisata kabupaten secara berkelanjutan.
Ke depan, program pendampingan dan pelatihan masyarakat akan digulirkan. Rencana pengemasan paket wisata edukasi untuk sekolah, festival panen lokal, serta pembangunan jalur trekking sawah yang aman dan instagramable menjadi bagian dari strategi menarik minat generasi muda.
Bukit Biru tak hanya menciptakan destinasi baru di Kukar, tetapi juga menyampaikan pesan kuat: kemajuan desa bisa berjalan seiring dengan pelestarian tradisi.
Di era ketika anak-anak lebih mengenal padi dari buku gambar ketimbang dari lumpur, Bukit Biru berusaha menyambung kembali cerita itu lewat wisata, lewat sawah, dan lewat tangan warga sendiri. (adv/ara)



