EkonomiHeadlineSamarinda

Bank Indonesia Prakirakan Ekonomi Kaltim Tetap Stabil di Tengah Resesi

Bank Indonesia menganalisis pertumbuhan ekonomi di Kaltim. Provinsi ini dinilai bertahan kala ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja.

Samarinda, intuisi.co—Kendati ekonomi dunia sedang melambat, Bank Indonesia memprakirakan Pertumbuhan ekonomi Kaltim tetap stabil. Kondisi tersebut terjadi lantaran pasokan batu bara dan kelapa sawit dari provinsi ini kembali bergerak positif.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim, Ricky Perdana Gozali mengatakan, tren ekonomi di Bumi Etam memang menggeliat. Hanya saja bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya tumbuh melambat. Pada triwulan I 2022 tercatat sebesar 1,85 persen, sementara periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,91 persen (yoy).

“Meski demikian tahun ini ekonomi Kaltim diprakirakan tetap mengalami pertumbuhan positif pada rentang 2,30- 3,30 persen (yoy),” tuturnya saat dihubungi reporter intuisi.co pada Senin, 22 Agustus 2022.

Ricky tak menampik jika konflik antara Rusia dan Ukraina juga memberikan dampak positif terhadap industri ekstraktif di Kaltim. Baik itu dari sisi harga hingga permintaan dari negara-negara yang memberikan sanksi kepada Rusia, seperti Eropa, Jepang dan Korea Selatan. Bahkan, efek bergandanya turut mengerek harga ke level tertinggi sepanjang sejarah yakni 435 USD atau setara Rp6,5 juta per metrik ton.

“Kondisi ekonomi Kaltim ini menunjukkan tren pemulihan,” tuturnya.

Analisis Bank Indonesia Soal Industri Pengolahan Kaltim

Setali tiga uang, kata dia, kondisi serupa juga dialami industri pengolahan yang diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya seiring terbukanya keran aktivitas warga. Misalnya, dari sektor pengolahan minyak di Balikpapan yang persentasenya berkontribusi 55,25 persen. Senada dengan sektor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit. Kini harga komoditas CPO internasional tersebut terus bergerak menuju level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir.

“Posisi April 2022 tercatat mencapai 1,683 USD sebesar 651,56 persen (yoy),” terangnya.

Kendati begitu Kaltim juga harus waspada, sebab ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga turut memengaruhi inflasi. Sejumlah negara sudah merasakan dampaknya. Benua Etam pun tak bisa lepas dari ancaman tersebut. Dari analisis Bank Indonesia, inflasi diprakirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dalam rentang 3,59– 4,39 persen (yoy).

Dia menambahkan, menyikapi ihwal tersebut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltim bakal memperkuat sinergi dan aksi. Dimulai dari menjaga ketersediaan pasokan, pemetaan kerja sama antardaerah. Tak hanya itu, TPID saat ini tengah mengembangkan digitalisasi UMKM untuk menjaga ketahanan pangan.

“Terakhir untuk kelancaran distribusi, kami juga akan melakukan pengamanan di jalur distribusi dan implementasi jalur khusus untuk kendaraan logistik,” pungkasnya. (*)

 

Tags

Berita Terkait

Back to top button
Close

Mohon Non-aktifkan Adblocker Anda

Iklan merupakan salah satu kunci untuk website ini terus beroperasi. Dengan menonaktifkan adblock di perangkat yang Anda pakai, Anda turut membantu media ini terus hidup dan berkarya.