Bupati Aulia: Jaga Pijakan Budaya Masyarakat Kukar

intuisi

10 Okt 2025 17:32 WITA

Kukar
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman. (istimewa)

Tenggarong, intuisi.co– Upaya pelestarian naskah kuno di Kutai Kartanegara (Kukar) semakin diperkuat melalui program pendataan dan digitalisasi yang melibatkan langsung masyarakat. Langkah ini menjadi strategi pemerintah daerah untuk menjaga warisan pengetahuan yang selama bertahun-tahun tersimpan di rumah warga, terutama naskah lama yang memuat nilai budaya dan identitas orang Kutai.

Sebuah kegiatan sosialisasi bertajuk Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Penyimpanan, Perawatan, Pelestarian, dan Pendaftaran Naskah Kuno kembali digelar sebagai cara memperluas pemahaman publik. Program ini menegaskan bahwa pemerintah tidak mengambil alih naskah milik warga, melainkan hanya mendata dan mendokumentasikan isi naskah agar dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.

“Banyak yang mengira naskah akan diambil. Padahal tidak. Kita hanya mendata dan mendigitalisasi,” ujar Plt Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti, Jumat (10/10/2025).

Seluruh dokumen fisik tetap berada pada pemilik aslinya. Pemerintah hanya memerlukan salinan digital untuk kepentingan historis, pendidikan, dan penelitian. Sejauh ini, sejumlah naskah telah berhasil direkam dalam bentuk file PDF maupun diserahkan secara sukarela untuk proses identifikasi.

Meski begitu, penyimpanan arsip masih menghadapi kendala. Depo arsip yang ada dianggap belum layak menampung koleksi sensitif berusia puluhan hingga ratusan tahun. Karena itu, pemerintah menyiapkan rencana pembangunan depo baru di kawasan PKM sebagai fasilitas jangka panjang.

Diarpus juga menaruh perhatian pada naskah asal wilayah pemekaran seperti Kutai Timur dan Bontang. Pemetaan arsip lama dari dua daerah itu diperlukan agar warisan dokumenter tidak hilang saat terjadi perubahan administratif. Di sisi lain, belum ada skema anggaran yang memungkinkan pemerintah memberi apresiasi finansial kepada warga yang menyerahkan naskah asli.

“Kami sadar ini butuh dukungan anggaran. Tapi paling tidak sekarang masyarakat tahu bahwa naskahnya berharga,” ucap Rinda.

Dukungan juga datang dari Bupati Kukar Aulia Rahman Basri. Ia menilai pelestarian naskah lama merupakan bagian penting dari pembangunan identitas daerah. Menurutnya, kebijakan modernisasi daerah tidak boleh mengabaikan sejarah. Aulia menegaskan bahwa menjaga naskah kuno berarti menjaga pijakan budaya masyarakat Kukar. Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, pemilik naskah, dan para peneliti agar pelestarian dapat berjalan berkelanjutan.

Rinda menutup dengan penekanan bahwa pelestarian naskah kuno membutuhkan keterlibatan luas. “Naskah kuno adalah cermin sejarah dan identitas daerah. Kalau tak diselamatkan hari ini, generasi esok akan kehilangan jejaknya,” ujarnya.

Dengan makin intensifnya pendataan, digitalisasi, dan kolaborasi, Kukar berharap warisan dokumenter yang selama ini tersebar di masyarakat dapat terjaga lebih baik dan menjadi sumber belajar bagi masa depan. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!