Tenggarong, intuisi.co – Kunyit Hitam Borneo hasil inovasi warga Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), resmi diluncurkan dan siap masuk ke pasar ekspor. Dari tangan-tangan terampil ibu-ibu desa lahirlah produk herbal yang kini bersiap menembus pasar dunia.
Produk ini menjadi bukti nyata bahwa desa mampu mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal, sekaligus mengangkat peran perempuan dalam kegiatan produktif di bawah naungan PKK dan Dasawisma Anggrek.
Peluncuran resmi produk herbal tersebut digelar di Tabanan, Bali, yang menjadi pintu gerbang promosi ke pasar nasional dan internasional. Kepala Desa Purwajaya, Adi Sucipto, menyebut kehadiran Kapsul Herbal Borneo bukan sekadar langkah bisnis, tetapi juga wujud keberhasilan pemberdayaan masyarakat desa.
“Kunyit hitam ini diolah menjadi kapsul herbal ‘Borneo’ dan sudah menarik perhatian banyak pihak,” ujarnya bangga, Rabu (1/10/2025).
Produk kapsul ini dibuat dari kunyit hitam pilihan yang dibudidayakan langsung oleh warga Purwajaya. Proses pengolahan dilakukan secara higienis dengan standar mutu tinggi, menghasilkan kapsul alami yang diyakini memiliki khasiat menjaga daya tahan tubuh dan membantu pemulihan kesehatan.
Inovasi ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan pelaku industri herbal nasional. Salah satunya datang dari Rektor Universitas Udayana, yang hadir langsung dalam peluncuran produk dan memberi dukungan terhadap pengembangan industri herbal asal Kukar tersebut.
Adi menuturkan, keberhasilan ini tidak hanya mengangkat citra desa, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi peningkatan ekonomi warga, terutama perempuan.
“Melalui PKK, para ibu rumah tangga tidak hanya menanam, tapi juga mengolah dan memasarkan produk herbal, sampai akhirnya bisa menembus pasar di luar daerah,” jelasnya.
Selain produk kunyit hitam, PKK Desa Purwajaya juga menggagas sejumlah program ekonomi kreatif lain, seperti gerakan tanam cabai dan apotek hidup. Program tersebut mengajarkan warga memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber ekonomi keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
Tahun 2025 ini, pemerintah desa menargetkan perluasan budidaya kunyit hitam melalui kelompok wanita tani (KWT) agar rantai produksi bisa terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, desa dapat menciptakan sistem ekonomi mandiri yang berkelanjutan.
“Kami ingin memberdayakan ibu-ibu agar bisa menghasilkan produk berkualitas yang punya pasar luas,” kata Adi.
Ia menegaskan, kesuksesan produk herbal Borneo sejalan dengan visi pemerintah desa untuk mengoptimalkan sumber daya manusia, khususnya perempuan, sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi desa.
Pemerintah Desa Purwajaya turut memberikan dukungan penuh, mulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan teknis pengolahan herbal, hingga pendampingan promosi produk. Semua dilakukan agar usaha masyarakat tidak hanya tumbuh, tapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Kuncinya adalah konsistensi dan kerja sama. Selama warga kompak dan percaya diri, produk lokal akan punya daya saing,” tegasnya.
Adi optimistis, peluncuran di Bali akan menjadi langkah awal bagi Kapsul Borneo menuju pasar ekspor. Ia berharap produk herbal khas Purwajaya ini segera dikenal lebih luas, bahkan menjadi ikon baru ekonomi kreatif berbasis pertanian herbal dari Kukar.
“Bali adalah awal yang baik. Kami yakin produk ini bisa menjangkau pasar ekspor dan membawa nama Desa Purwajaya lebih dikenal luas,” pungkasnya. (rio/adv)



