Tenggarong, intuisi.co- Langkah baru dalam transformasi digital pemerintahan desa resmi dimulai di Kutai Kartanegara. Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, kini menyandang predikat sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) pertama di wilayah tersebut.
Penyerahan piagam pencanangan oleh Bupati Kukar Edi Damansyah kepada Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, di hadapan perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) serta unsur pemerintah daerah.
Program “Desa Cantik” yang digagas oleh BPS RI merupakan bagian dari gerakan Satu Data Indonesia, dengan tujuan memperkuat kemampuan desa dalam mengelola serta memanfaatkan data sebagai dasar perencanaan pembangunan. Langkah ini diharapkan mampu mengubah pola kerja pemerintahan desa dari berbasis perkiraan menjadi berbasis informasi yang akurat dan berkelanjutan.
Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, menilai pencanangan ini sebagai momentum penting untuk memperkuat kapasitas desa dalam penyusunan kebijakan.
“Data bukan lagi sekadar angka di atas kertas. Data adalah representasi dari kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek yang mempengaruhi arah pembangunan desa,” ujarnya pada Senin (16/6/2025).
Ia menambahkan, sistem informasi desa kini menjadi instrumen vital dalam memastikan setiap program tepat sasaran. “Kalau datanya kuat, program desa bisa lebih terarah. Anggaran juga bisa dibagi dengan adil. Bahkan kita bisa lebih mudah menarik program dari pusat atau provinsi,” lanjutnya.
Sebagai bentuk kesiapan, Pemerintah Desa Batuah telah melakukan pembenahan internal melalui pemutakhiran data kependudukan, data UMKM, pertanian, dan potensi ekonomi lokal. Aparatur desa juga mengikuti pelatihan literasi statistik agar mampu membaca dan memanfaatkan data secara efektif.
Selain untuk perencanaan, program ini juga membuka ruang transparansi publik. Masyarakat dapat mengakses informasi desa melalui sistem digital yang sedang dikembangkan, sehingga prinsip keterbukaan data benar-benar diterapkan dari tingkat paling bawah pemerintahan.
Abdul Rasyid berharap langkah ini tidak berhenti di Batuah saja. Ia mendorong agar Pemkab Kukar menularkan praktik serupa ke desa-desa lain. “Bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal niat dan semangat belajar. Kami siap berbagi pengalaman dengan desa lain agar program ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh desa di Kukar,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebijakan pembangunan tanpa dasar data yang valid berpotensi menimbulkan kesalahan arah kebijakan. “Kalau kita ingin maju, semua harus dimulai dari data. Inilah yang sedang kami bangun di Batuah. Tidak mudah, tapi kami optimis,” pungkasnya.
Melalui penetapan ini, Desa Batuah menegaskan diri sebagai pionir desa berbasis data di Kukar, yang diharapkan mampu memperkuat tata kelola pemerintahan sekaligus mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan dari tingkat desa. (adv/ara)



