Tenggarong, intuisi.co – Pemerintah Desa (Pemdes) Lebak Cilong, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mencatat capaian luar biasa. Melalui kerja kolaboratif lintas sektor, desa ini berhasil menekan angka stunting hingga 80 persen, menjadikannya salah satu contoh sukses penerapan strategi penanganan terpadu di tingkat akar rumput.
Kepala Desa Lebak Cilong, Humaidi, menegaskan bahwa hasil ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kerja sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan antara pemerintah desa, kader posyandu, PKK, hingga aparatur wilayah.
“Intervensi kami fokus pada pemberian makanan tambahan untuk balita, lalu dilanjutkan dengan koordinasi intensif bersama kader posyandu, PKK, hingga aparatur desa. Semua bergerak bersama dengan komitmen yang sama,” ujar Humaidi, Jumat (17/10/2025).
Program penanganan dimulai sejak awal tahun melalui pemetaan kasus gizi buruk di setiap dusun. Setelah data diperoleh, pemerintah desa bersama kader kesehatan melakukan penyaluran makanan bergizi tambahan secara rutin, dibarengi pemeriksaan kesehatan balita setiap bulan di posyandu.
Upaya tersebut diperkuat dengan rapat koordinasi tingkat kecamatan yang digelar sebelum pelaksanaan rembuk stunting.
Rapat ini menjadi wadah menyatukan visi dan strategi antar pihak agar pelaksanaan di lapangan berjalan seragam dan terukur.
“Rapat koordinasi itu penting supaya semua pihak satu pandangan. Kalau kerja sendiri-sendiri, hasilnya pasti tidak maksimal,” terang Humaidi.
Selain fokus pada balita, pemerintah desa juga memberi perhatian besar kepada ibu hamil, kelompok yang paling rentan terhadap risiko stunting pada anak.
Pemeriksaan kandungan secara rutin, pemberian suplemen, serta edukasi gizi dijalankan secara berkesinambungan.
“Risiko terbesar justru datang dari masa kehamilan. Karena itu, pemeriksaan rutin bagi ibu hamil terus kami lakukan agar bisa mendeteksi potensi stunting lebih awal,” tambahnya.
Menurut Humaidi, keberhasilan ini akan segera dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten Kukar sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus model replikasi bagi desa lain.
Ia menegaskan, stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan juga soal masa depan generasi desa.
“Stunting bukan hanya urusan desa, tapi tugas bersama. Dengan kerja sama dan sinergi lintas sektor, penanganannya bisa berjalan efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan hasil, Pemdes Lebak Cilong kini menyiapkan program lanjutan berupa dapur sehat dan kebun gizi guna memastikan pasokan pangan bergizi tetap tersedia sepanjang tahun.
Program ini diharapkan menjadi benteng jangka panjang agar kasus gizi buruk tidak kembali muncul.
Keberhasilan Lebak Cilong menunjukkan bahwa komitmen, data akurat, dan partisipasi masyarakat bisa menjadi kunci utama menurunkan stunting di tingkat desa.
Dari posyandu hingga kebun warga, semangat gotong royong di desa ini telah melahirkan harapan baru bagi tumbuh kembang anak-anak Kukar. (rio/adv)



