Desa Liang Ulu Bangun Gerakan Lawan Stunting

intuisi

13 Jun 2025 13:53 WITA

Ilustrasi- Posyandu di Desa Liang Ulu, Kukar. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co– Di tengah hamparan kebun karet dan jalan desa yang berdebu di musim panas, suara tawa anak-anak terdengar riuh dari Posyandu RT 04, Desa Liang Ulu, Kecamatan Kota Bangun.

Di tempat sederhana itu, sejumlah ibu menggendong balita sambil menunggu giliran penimbangan. Mereka datang bukan karena paksaan, melainkan karena percaya bahwa Posyandu adalah ruang harapan bagi tumbuh kembang anak-anak mereka.

Salah satunya adalah Rina (28), seorang ibu muda yang dua tahun lalu menghadapi kenyataan pahit ketika anak keduanya, Ilham, dinyatakan mengalami gejala stunting. Berat badan Ilham tak bertambah dalam tiga bulan dan pertumbuhannya tertinggal dibandingkan teman seusianya.

“Waktu itu saya sempat malu. Saya pikir, kalau anak saya dibilang stunting, berarti saya kurang pandai mengurus. Tapi setelah dijelaskan kader dan bu bidan, saya sadar ini bukan soal salah siapa, tapi bagaimana kita menangani,” ungkapnya, Jumat (13/6/2025).

Sejak saat itu, Rina rajin datang ke Posyandu, mengikuti penyuluhan gizi, dan menerapkan pola makan sehat di rumah. Kini, Ilham sudah lebih aktif bermain dan berat badannya meningkat. “Alhamdulillah, sekarang lebih ceria dan lahap makan,” katanya sambil tersenyum.

Kepala Desa Liang Ulu, Mulyadi, menilai bahwa upaya pencegahan stunting tidak boleh sekadar berhenti pada program pemerintah. Menurutnya, isu ini menyangkut masa depan desa. “Stunting bukan soal angka di laporan. Ini soal anak-anak yang akan membangun desa ini ke depan. Kalau mereka lemah hari ini, desa ini juga akan lemah sepuluh tahun nanti,” ujarnya tegas.

Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah Desa Liang Ulu menjadikan Posyandu sebagai pusat layanan gizi dan pembinaan keluarga. Program pemberian makanan tambahan terus digalakkan, pelatihan kader diperkuat, dan RT didorong aktif menjemput warga yang belum terlayani.

“Posyandu tidak boleh menunggu. Kita yang harus mendatangi warga. Termasuk mereka yang mungkin malu, tertutup, atau tidak tahu anaknya butuh bantuan,” tutur Mulyadi.

Tantangan terbesar, katanya, bukan kekurangan fasilitas, melainkan rasa enggan sebagian orang tua yang malu mengakui anaknya mengalami stunting. Untuk itu, Pemdes bersama PKK dan tokoh masyarakat menggelar sosialisasi dari rumah ke rumah agar warga memahami pentingnya deteksi dini dan keterbukaan terhadap layanan kesehatan anak.

“Kami ingin orang tua tahu, datang ke posyandu bukan berarti gagal. Justru itu bukti cinta mereka pada anak-anaknya,” tegas Mulyadi.

Kini, Desa Liang Ulu perlahan membangun budaya baru: budaya peduli, bukan malu. Semangat gotong royong dan edukasi berkelanjutan menjadi pondasi bagi desa ini dalam melahirkan generasi yang sehat dan kuat. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!