Tenggarong, intuisi.co – Di tepian Sungai Matang, Desa Muara Kaman Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini bersiap menghadirkan wajah baru pariwisata berbasis alam dan kearifan lokal. Pemerintah desa tengah membangun pelantar wisata berbahan kayu ulin, material khas Kalimantan yang terkenal kuat sekaligus bernilai estetika tinggi.
Kepala Desa Muara Kaman Ulu, Hendra, mengatakan pembangunan pelantar dilakukan secara bertahap menggunakan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2025. Meski anggaran terbatas, proyek ini akan dijalankan berkelanjutan hingga rampung.
“Prinsipnya dikerjakan terus, meskipun sedikit demi sedikit. Jadi berkelanjutan, tidak sekaligus selesai,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Pelantar tersebut dirancang menyerupai konsep Taman Tanjung Tenggarong, namun dengan nuansa Sungai Mahakam yang lebih alami. Penggunaan kayu ulin menjadi ciri khas utama sekaligus penegasan identitas lokal Kalimantan.
“Modelnya seperti di Timbau, Taman Tanjung, tapi kita pakai ulin,” jelasnya.
Hendra memperkirakan, total biaya pembangunan pelantar bisa mencapai Rp2–3 miliar, sedangkan alokasi dana desa tiap tahun hanya sekitar Rp75–100 juta. Karena itu, pembangunan dilakukan secara bertahap tanpa mengorbankan program prioritas lain.
“Untuk proyek ini bisa sampai dua sampai tiga miliar, tapi DD terbatas. Jadi kita jalan pelan-pelan,” terangnya.
Sebagai langkah percepatan, pemerintah desa juga berencana menggandeng perusahaan sekitar melalui program tanggung jawab sosial (CSR). Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penyelesaian sekaligus memperluas fasilitas wisata yang ramah pengunjung.
Lokasi pelantar di tepi Sungai Matang memiliki keunggulan panorama alami. Dari sisi barat, pengunjung bisa menikmati matahari terbit yang memantul di permukaan air, sementara sisi timur menyajikan pemandangan vegetasi sungai yang masih asri.
“Pemandangannya bagus sekali. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi daya tarik utama,” kata Hendra.
Pelantar wisata ini tak sekadar menjadi tempat bersantai, tetapi juga ruang publik dan pusat ekonomi warga. Pemerintah desa menyiapkan konsep pengembangan UMKM, kuliner lokal, serta spot foto bernuansa alam agar wisata berkontribusi langsung terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
“Kalau sudah jadi, kios UMKM bisa kita siapkan. Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi wadah perputaran ekonomi warga,” tegasnya.
Tahun 2026 mendatang, Pemdes menargetkan tambahan anggaran minimal Rp100 juta untuk melanjutkan pembangunan, sekaligus membuka peluang kemitraan dengan pihak swasta.
“Sedikit demi sedikit kita bangun, yang penting konsisten. Mudah-mudahan tahun depan ada dukungan tambahan,” harapnya.
Dengan memadukan pesona Sungai Mahakam dan kayu ulin sebagai ikon utama, Desa Muara Kaman Ulu menegaskan langkahnya menuju desa wisata berbasis alam dan budaya lokal — tempat di mana keindahan, kemandirian, dan kearifan warga berpadu menjadi satu daya tarik yang khas. (rio/adv)



