Desa Purwajaya Jadi Lumbung Sayur di Kukar

intuisi

6 Okt 2025 21:45 WITA

Desa Purwajaya
Ilustrasi petani sayur di Kutai Kartanegara. (Intuisi.co/istimewa)

Tenggarong, intuisi.co – Di tengah fluktuasi harga bahan pangan, Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan, tampil sebagai penyangga utama kebutuhan sayur-mayur di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Dari hamparan lahan subur di kawasan KM 10, setiap hari ratusan kilogram cabai, tomat, dan sayuran hijau dipanen untuk memenuhi pasar-pasar di Tenggarong hingga Samarinda.

“Alhamdulillah, sebagian besar pasokan sayuran di pasar berasal dari Purwajaya,” ujar Kepala Desa Purwajaya, Adi Sucipto, Senin (6/10/2025).

Desa yang dikenal sebagai sentra hortikultura unggulan ini telah lama menjadi tumpuan petani lokal. Komoditas utamanya meliputi cabai rawit, tomat, kangkung, bayam, sawi, serta tanaman obat keluarga (TOGA). Aktivitas pertanian berlangsung nyaris tanpa henti, menjadi sumber penghidupan bagi ratusan kepala keluarga.

Adi menuturkan, keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah desa.
Selain memberikan bantuan sarana produksi, desa juga aktif melakukan pembinaan dan pendampingan bagi para petani agar hasil panen tetap stabil dan berkualitas.

“Petani di sini terus kami dorong agar produktif dan mandiri. Kami juga bantu dari sisi sarana dan pembinaan agar hasilnya maksimal,” jelasnya.

Untuk memperkuat produksi, Pemerintah Desa Purwajaya kini menyiapkan langkah strategis memperluas lahan tanam dengan menggandeng perusahaan sekitar.
Langkah ini diyakini akan meningkatkan volume produksi sekaligus memperkokoh posisi Purwajaya sebagai lumbung hortikultura Kukar.

“Kami akan memanfaatkan lahan perusahaan agar produksi meningkat,” tambah Adi.

Sinergi lintas sektor juga menjadi kunci keberhasilan.
Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar turut mengembangkan program ketahanan pangan berbasis jagung di wilayah ini, sedangkan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) aktif memberikan pendampingan teknis dan bantuan benih unggul.

Dengan dukungan tersebut, Purwajaya tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga berpotensi memperluas pasarnya hingga ke Ibu Kota Nusantara (IKN) yang jaraknya relatif dekat.

Adi menegaskan, pertanian bukan sekadar urusan hasil panen, tetapi pilar utama kesejahteraan desa.
Kemandirian petani berarti kemandirian ekonomi bagi seluruh warga.

“Kalau petani sejahtera, desa maju, otomatis masyarakat ikut merasakan dampaknya,” tegasnya.

Melalui semangat gotong royong, inovasi, dan keberpihakan pada petani lokal, Desa Purwajaya kini tumbuh sebagai contoh nyata desa tangguh pangan di Kutai Kartanegara — sebuah wilayah yang membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bisa tumbuh dari tanah sendiri. (rio/adv)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!