Desa Sebelimbingan Dukung Program Perdagangan Karbon Kukar

intuisi

17 Jun 2025 14:45 WITA

Perdagangan karbon berbasis lahan gambut. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co– Upaya Pemkab Kukar dalam memperkuat ekonomi hijau mulai menunjukkan arah baru. Salah satu terobosannya ialah program perdagangan karbon yang digagas bersama PT Tirta Carbon Indonesia, dengan memanfaatkan potensi besar lahan gambut di beberapa kecamatan.

Dari peta awal proyek tersebut, Desa Sebelimbingan di Kecamatan Kota Bangun menjadi salah satu lokasi penting. Wilayah ini memiliki bentang lahan gambut seluas sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare, yang kini disiapkan untuk dikelola melalui skema perdagangan karbon.

Kepala Desa Sebelimbingan, Syaukani, menyambut positif langkah tersebut dan menilai program ini bukan sekadar peluang ekonomi, tetapi juga bentuk nyata komitmen menjaga alam sebagai sumber penghidupan masyarakat.

“Kami sangat mendukung rencana kerja sama Pemkab Kukar dengan PT Tirta Carbon Indonesia. Ini bukan hanya peluang ekonomi, tapi juga langkah konkret menjaga alam yang jadi sumber kehidupan warga,” ujar Syaukani, Selasa (17/6/2025).

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Pemkab Kukar dan PT Tirta Carbon Indonesia untuk mengelola sekitar 55 ribu hektare lahan gambut dalam mekanisme perdagangan karbon. Melalui sistem ini, kawasan yang dipertahankan kelestariannya dapat menghasilkan kredit karbon yang bernilai di pasar global.

Syaukani menilai, pendekatan ini memberi nilai baru bagi wilayahnya. “Dengan pendekatan seperti ini, kami tidak harus memilih antara ekonomi dan ekologi. Keduanya bisa jalan bersama,” jelasnya.

Sebagian besar warga Sebelimbingan bekerja sebagai nelayan. Karena itu, menjaga kelestarian kawasan gambut berarti juga menjaga keberlangsungan ekosistem perairan yang menjadi tumpuan hidup mereka. “Kalau hutannya rusak, rawa dan sungai ikut rusak. Ikan berkurang. Tapi kalau dijaga, tempat cari ikan tetap ada. Program ini jadi pelindung bagi ekonomi rakyat kecil,” tuturnya.

Ia berharap, perdagangan karbon ini tak berhenti pada skema jual beli emisi, tetapi juga diikuti oleh pemberdayaan masyarakat, pelatihan lingkungan, serta insentif bagi kelompok yang aktif menjaga lahan.

“Saya selaku kepala desa, dan tentunya mewakili masyarakat Sebelimbingan, akan memberikan dukungan penuh. Kami siap bersinergi dan mengawal program ini agar bermanfaat maksimal,” tegasnya.

Langkah Desa Sebelimbingan menjadi cerminan pergeseran paradigma pembangunan di Kukar, dari eksploitasi sumber daya alam menuju pengelolaan berkelanjutan. Jika berhasil, model ini berpotensi menjadi inspirasi bagi desa-desa lain yang memiliki ekosistem gambut atau hutan untuk dikelola secara lestari. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!