Desa Teluk Dalam Jadi Teladan Kesehatan Anak di Kukar

intuisi

10 Okt 2025 22:45 WITA

Kenohan
Ilustrasi upaya menekan kasus stunting di Posyandu Kecamatan Kenohan. (Istimewa)

Tenggarong, intuisi.co Di tengah upaya nasional menekan kasus gizi kronis, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang, justru mencatat prestasi luar biasa. Dari sekitar 2.500 penduduk, hanya 0,5 persen anak yang terindikasi stunting — menjadikannya desa dengan angka stunting terendah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Capaian ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari konsistensi program kesehatan dan kedisiplinan warga menjaga asupan gizi keluarga. Kepala Desa Teluk Dalam, Supian, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah desa, kader Posyandu, PKK, dan masyarakat.

“Angka stunting di sini sangat rendah, belum sampai 0,5 persen. Dari sekitar 2.500 penduduk yang terindikasi pun masih bisa dikategorikan ringan,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).

Desa Teluk Dalam memiliki dua Posyandu aktif, yaitu Posyandu Balita dan Posyandu Lansia, yang menjadi pusat kegiatan kesehatan masyarakat.
Kedua posyandu ini rutin memantau tumbuh kembang anak dan kondisi kesehatan warga lanjut usia melalui pemeriksaan dan edukasi bulanan.

Selain pemantauan, pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran khusus untuk program makanan bergizi bagi balita. Menu sehat disusun dengan bahan lokal, seperti sayuran desa, telur, dan ikan air tawar, mengikuti panduan tenaga kesehatan.

“Kami siapkan anggaran khusus agar anak-anak bisa tumbuh sehat dan kuat,” kata Supian.

Kegiatan tersebut dijalankan secara kolaboratif oleh kader Posyandu dan ibu-ibu PKK, yang aktif memberikan penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang dan cara mengolah makanan sehat di rumah tangga.

Salah satu kader Posyandu Balita, Nur Aini, mengungkapkan bahwa keberhasilan menekan stunting di Teluk Dalam tidak lepas dari pendekatan langsung ke keluarga.

“Kami rutin turun ke lapangan, menimbang balita, mencatat perkembangan, dan memberi edukasi langsung. Kalau ada yang berat badannya kurang, kami segera tindaklanjuti,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesadaran masyarakat kini meningkat pesat.

“Dulu masih banyak yang malu atau malas datang, sekarang justru berebut ingin ikut,” katanya sambil tersenyum.

Selain fokus pada anak-anak, Posyandu Lansia juga berperan penting dalam menjaga kualitas hidup warga lanjut usia. Pemeriksaan tekanan darah, pembagian vitamin, serta penyuluhan gaya hidup sehat dilakukan setiap bulan.

Supian menilai, ukuran desa yang relatif kecil justru menjadi keunggulan tersendiri karena memudahkan pemantauan individu.

“Karena penduduk tidak banyak, kami bisa memantau kondisi kesehatan warga satu per satu,” jelasnya.

Menurutnya, upaya sederhana namun konsisten adalah kunci keberhasilan Teluk Dalam. Program pencegahan dini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah masalah muncul.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kuncinya ada di gizi, kesadaran, dan Posyandu yang aktif,” tutupnya.

Dengan capaian ini, Desa Teluk Dalam tidak hanya menjadi contoh bagi desa lain di Kukar, tetapi juga membuktikan bahwa komitmen kolektif dan edukasi berkelanjutan mampu menekan stunting hingga nyaris nol. (rio/adv)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!