Tenggarong, intuisi.co– Antusiasme pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyambut Festival Erau 2025 begitu tinggi. Bagi mereka, ajang tahunan ini bukan sekadar pesta budaya, tetapi juga peluang emas untuk memamerkan produk unggulan kepada ribuan pengunjung.
Di tengah semangat itu, Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi tantangan keterbatasan jumlah tenan. Kapasitas ruang pamer tidak sebanding dengan jumlah pelaku usaha yang ingin berpartisipasi. Untuk mengatasi hal tersebut, mekanisme khusus pun disiapkan.
Taufik Zulfiannur, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskop-UKM Kukar, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberi ruang seluas-luasnya bagi pelaku UMKM lokal.
“Kami coba padukan, misalnya pelaku kue tradisional digabung, kerajinan dengan ekraf, atau dibuat sistem selang-seling harian agar semua tetap bisa ikut meramaikan,” ujarnya, Minggu (31/8/2025).
Alternatif lain juga diterapkan. Satu tenda di luar arena bisa menampung dua hingga tiga UMKM sekaligus, sehingga sekitar 30 pelaku usaha dapat difasilitasi. Sementara untuk area dalam arena, seleksi dilakukan lebih ketat dengan mempertimbangkan kualitas produk dan daya tarik pengunjung.
Kondisi fiskal daerah yang sedang defisit turut memengaruhi keterbatasan fasilitas. Meski begitu, Diskop-UKM tetap melakukan pembinaan dan berkoordinasi lintas perangkat daerah agar pelaku usaha tetap mendapat dukungan, meski tidak semua bisa tampil di arena utama.
Kolaborasi dengan event organizer (EO) penyelenggara Erau juga menjadi strategi tambahan. Jika tersedia slot tambahan, pelaku UMKM yang belum terakomodir akan diupayakan masuk. “Kalau ada ruang tambahan, tentu akan kami akomodir,” tambah Taufik.
Festival Erau dikenal sebagai etalase produk lokal. Ribuan pengunjung dari Kukar dan luar daerah diperkirakan hadir untuk menyaksikan rangkaian acara budaya. Momen ini menjadi kesempatan strategis bagi UMKM untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan identitas produk khas daerah.
Pemerataan partisipasi menjadi prinsip utama. Diskop-UKM memastikan bahwa bukan hanya UMKM besar atau mapan yang mendapat panggung, tetapi juga pelaku usaha kecil, pemula, dan pengrajin tradisional. Pola ini diharapkan menumbuhkan semangat kolaborasi, bukan sekadar persaingan.
Meski fasilitas terbatas, pemerintah daerah tetap konsisten mendorong UMKM naik kelas. Pembinaan berkelanjutan dilakukan sebelum dan sesudah festival, agar pelaku usaha tetap berkembang melalui kanal lain di luar Erau.
Dengan pendekatan inklusif ini, Festival Erau 2025 diharapkan tak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga motor penggerak ekonomi rakyat. Partisipasi UMKM lokal menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif Kukar mampu tumbuh dan bersaing, bahkan dalam keterbatasan. (adv/ara)



