Tenggarong, intuisi.co– Ancaman terhadap kelangsungan hidup Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) semakin nyata di tengah maraknya pembangunan dan aktivitas ekonomi di kawasan perairan Sungai Mahakam. Satwa endemik ini kini menghadapi tekanan ekologis yang kian meningkat.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara (Kukar) menyoroti bahwa setiap bentuk intervensi di kawasan sungai, termasuk pembangunan infrastruktur dan pertambangan yang berpotensi mempercepat penurunan populasi pesut.
“Pembangunan memang tak bisa dihindari, tapi kita harus ingat bahwa Mahakam adalah rumah bagi Pesut Mahakam. Sekali habitatnya terganggu, dampaknya bisa sangat fatal,” ujar Kepala DKP Kukar, Muslik, Selasa (12/8/2025).
Data terbaru menunjukkan bahwa populasi pesut terus menurun dari tahun ke tahun. Statusnya kini masuk kategori terancam punah, dengan habitat yang semakin terfragmentasi akibat sedimentasi, pencemaran air, dan kebisingan dari aktivitas manusia.
Salah satu tekanan baru datang dari aktivitas penambangan silika. Meski dilakukan dengan izin resmi, Muslik menegaskan bahwa kegiatan tersebut tetap harus mematuhi prinsip kehati-hatian dan kelestarian lingkungan.
“Kalau kegiatan penambangan dilakukan tanpa kontrol ketat, risiko kerusakan habitat pesut tak bisa dihindari. Ini satwa yang sangat sensitif terhadap perubahan ekosistem air,” jelasnya.
Upaya konservasi telah dilakukan melalui penetapan sejumlah kawasan perairan sebagai zona perlindungan. Namun, Muslik menilai langkah ini tidak cukup tanpa dukungan lintas sektor, terutama dari instansi yang berwenang dalam perencanaan dan pengawasan pembangunan.
“Kami butuh sinergi. Pelestarian pesut tidak bisa dilakukan oleh DKP saja. Harus ada keterlibatan semua pihak, dari pusat hingga daerah,” tambahnya.
Keberadaan pesut juga dianggap sebagai indikator kesehatan lingkungan sungai. Jika populasinya hilang, hal itu menandakan kerusakan ekosistem yang lebih luas, termasuk dampaknya terhadap sektor perikanan dan sumber air masyarakat.
“Kalau pesut punah, itu pertanda sungai kita sudah tidak sehat. Ini bukan sekadar isu konservasi, tapi juga soal keberlanjutan hidup masyarakat pesisir,” tegas Muslik.
Ia berharap seluruh bentuk pembangunan di sekitar Mahakam ke depan dapat mempertimbangkan aspek lingkungan secara serius. DKP Kukar pun meminta dilibatkan sejak awal sebagai pihak teknis yang memahami dinamika ekosistem perairan.
“Jangan sampai kita menyesal ketika sudah terlambat. Pesut Mahakam bukan hanya simbol Kukar, tapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (adv/ara)



