Tenggarong, intuisi.co- Ikan bukan sekadar lauk harian bagi masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar). Di balik kandungan gizinya, tersimpan harapan besar untuk melahirkan generasi sehat dan bebas stunting.
Melalui program Gerakan Masyarakat Gemar Makan Ikan (Gemarikan), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar menjadikan ikan sebagai ujung tombak dalam strategi gizi daerah.
Gerakan ini tidak berhenti pada kampanye konsumsi semata. Kepala DKP Kukar, Muslik, menegaskan bahwa Gemarikan menyentuh dua sisi penting sekaligus: pemenuhan gizi masyarakat dan penguatan ketahanan pangan lokal.
“Kami telah menggandeng berbagai instansi lintas sektor. Gerakan ini tidak hanya mengedukasi masyarakat soal gizi, tetapi juga mendorong ketahanan pangan berbasis ikan,” ujarnya, Minggu (31/8/2025).
Ikan dikenal sebagai sumber protein hewani yang sangat dianjurkan, terutama bagi anak-anak. Kandungan omega-3, vitamin D, dan mineral penting di dalamnya membantu tumbuh kembang sekaligus mencegah risiko stunting. Karena itu, DKP Kukar menempatkan Gemarikan sebagai strategi unggulan dalam upaya menurunkan angka stunting.
Pelaksanaan program melibatkan berbagai pihak, termasuk Bappeda Kukar, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Fokus utama diarahkan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga dengan anak balita.
Melalui penyuluhan langsung di desa dan kecamatan, masyarakat diajak memahami pentingnya konsumsi ikan secara rutin.
Untuk meningkatkan partisipasi, DKP Kukar juga menggelar lomba gemar makan ikan sebagai sarana edukasi yang menyenangkan. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan olahan ikan yang variatif dan mudah diakses oleh masyarakat.
Muslik menambahkan bahwa pemerataan produksi dan distribusi ikan menjadi tantangan tersendiri. Dengan wilayah Kukar yang luas, pasokan ikan harus menjangkau hingga ke pedalaman agar manfaat gizi bisa dirasakan secara merata.
Upaya ini juga memperkuat kemandirian pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan pangan dari luar daerah.
Dampak program mulai terlihat. Berdasarkan survei Status Gizi Indonesia 2024, prevalensi stunting di Kukar berhasil ditekan menjadi 14,2 persen, turun signifikan dari 27 persen pada tahun-tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan bahwa sinergi lintas sektor, termasuk kontribusi DKP melalui Gemarikan, memberi hasil nyata.
Meski demikian, tantangan belum usai. Perubahan pola konsumsi masyarakat membutuhkan proses panjang. Sebagian warga masih lebih memilih pangan instan atau belum terbiasa dengan olahan ikan yang beragam.
“Karena itu, edukasi gizi harus terus diperkuat, tidak hanya melalui penyuluhan, tetapi juga lewat inovasi kuliner berbasis ikan yang menarik dan mudah diterapkan,” ujarnya.
Gemarikan pun tak berhenti di meja makan. Ia tumbuh menjadi gerakan budaya: budaya mengonsumsi pangan lokal sehat yang mendukung kesehatan generasi mendatang dan memperkuat ketahanan pangan dari desa hingga kota. (adv/ara)



