Samarinda, intuisi.co – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Hasanuddin Mas’ud, memberikan perhatian serius terhadap maraknya kasus kekerasan dan kenakalan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah. Di Kaltim sendiri, Kota Samarinda masih menjadi kota dengan kasus kekerasan pada anak tertinggi sepanjang tahun 2024.
Menurut data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Kota Samarinda, per November 2024 tercatat 209 kasus terjadi. Dia menegaskan pentingnya penanganan yang berfokus pada pengembangan karakter siswa, bukan hanya memberikan sanksi yang bersifat represif.
Hasanuddin mengajak sekolah, orang tua, dan pemerintah untuk bekerja sama menciptakan sistem pembinaan yang efektif. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu siswa yang bermasalah agar kembali ke jalur positif tanpa harus mengalami penurunan mental.
“Anak-anak yang melakukan kesalahan sebaiknya tidak dijauhi, melainkan diberi bimbingan dan dukungan,” kata pria yang akrab siapa Hamas itu, pada Sabtu (31/5/2025). Ia melanjutkan bahwa ingin memberikan mereka kesempatan memperbaiki diri, bukan memberi label negatif yang sulit dihilangkan.
Meski belum ada laporan resmi mengenai peningkatan kenakalan pelajar di Kaltim, Hamas membuka ruang untuk evaluasi dan dialog terkait sistem pendidikan yang sedang berjalan. Hamas mengingatkan agar pembinaan di sekolah tetap mengutamakan pendekatan yang humanis sambil menjaga disiplin.
Ia juga menekankan agar kebijakan terhadap pelajar bermasalah tidak menggunakan hukuman fisik maupun stigma negatif, karena hal tersebut justru dapat memperburuk kondisi psikologis siswa.
“Pendidikan harus menjadi sarana pembentukan karakter, bukan ajang pemberian hukuman. Kita perlu membangun kesadaran siswa agar mereka merasa diterima, bukan terasingkan,” jelasnya. Selain itu, Ia mendorong dinas pendidikan dan pihak sekolah agar memperkuat pengawasan serta pembinaan internal demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terkait kurikulum, tapi juga bagaimana menghadapi perubahan sosial yang mempengaruhi perilaku pelajar.
“Kita ingin generasi muda Kaltim tumbuh menjadi pribadi yang beretika, tangguh secara mental, dan siap menyongsong masa depan. Semua itu hanya bisa terwujud jika mereka dibimbing dengan tepat, bukan ditekan,”pungkas Hamas. (adv/rfh/ara)



