Tenggarong, intuisi.co– Wajah perpustakaan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini tampil lebih segar dan kekinian. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar menghadirkan Kafe Literasi—ruang baca santai yang memadukan atmosfer kafe dengan kegiatan literasi kreatif.
Langkah ini menjadi terobosan untuk menjangkau generasi muda dan menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup. Melalui program ini, Diarpus ingin mengubah citra perpustakaan menjadi tempat yang inklusif, menyenangkan, dan relevan bagi berbagai kalangan.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diarpus Kukar, Rinda Desianti, Kafe Literasi dirancang sebagai ruang interaktif yang tak hanya menyediakan buku.
Pengunjung juga bisa berdiskusi, menulis, menyimak podcast, hingga menikmati konten edukatif berbasis digital. “Kami ingin masyarakat datang bukan karena kewajiban, tapi karena tempat ini menyenangkan,” ujarnya, Rabu (6/8/2025).
Salah satu tantangan literasi saat ini, lanjut Rinda, adalah bagaimana membuat aktivitas membaca terasa menarik dan kontekstual. Di sinilah Kafe Literasi mengambil peran—mendekatkan buku dan pengetahuan dalam format yang lebih santai dan bersahabat.
Ia menambahkan, “Pemuda sekarang lebih suka nongkrong. Maka kenapa tidak kita hadirkan literasi dalam bentuk tempat nongkrong yang cerdas?”
Untuk mendukung kenyamanan pengunjung, Kafe Literasi akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Mulai dari ruang baca dengan sofa empuk, koneksi internet, pemutaran film edukatif, sesi mendongeng, hingga kelas-kelas tematik seperti menulis kreatif, public speaking, dan literasi digital.
Tak berhenti di situ, Diarpus juga tengah menyiapkan Taman Pintar sebagai pelengkap.
Wahana literasi edukatif ini ditujukan bagi anak-anak dan pelajar, dengan pendekatan experiential learning yang mengangkat tema lokal seperti pertanian, lingkungan, dan perikanan.
“Mereka akan belajar dari melihat, menyentuh, dan merasakan. Ini penting agar literasi tidak berhenti di buku, tapi masuk ke cara mereka memahami dunia sekitar,” jelas Rinda.
Seluruh inisiatif ini, tegasnya, bukan sekadar untuk meningkatkan angka literasi. Lebih dari itu, Diarpus ingin membangun kesadaran kolektif bahwa membaca dan belajar adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin literasi menjadi budaya, bukan program sesaat. Kalau ini tumbuh dari bawah, Kukar akan punya generasi yang unggul dan siap bersaing,” pungkasnya. (adv/ara)



