Kota Bangun Ilir Kukar Bangun Kemandirian Pangan Lewat Peternakan Terpadu

intuisi

3 Okt 2025 14:59 WITA

Kota Bangun
Ilustrasi peternakan lele di Kukar. (istimewa)

Tenggarong, intuisi.co – Dari kandang ayam hingga kolam lele, geliat ekonomi baru tengah tumbuh di Desa Kota Bangun Ilir, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui program peternakan terpadu ayam petelur dan budidaya ikan lele, desa ini berhasil menciptakan sumber penghidupan baru bagi warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

Kepala Desa Kota Bangun Ilir, Supardi, menuturkan bahwa program tersebut merupakan pengembangan dari kegiatan sebelumnya yang berfokus pada ayam petelur. Tahun 2025, inovasi diperluas dengan menambahkan sektor budidaya ikan lele sebagai bentuk diversifikasi ekonomi desa.

“Tahun lalu kami fokus pada ayam petelur, tahun ini kami tambah dengan budidaya lele. Tujuannya agar ekonomi masyarakat semakin kuat dan desa bisa mandiri dalam ketahanan pangan,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).

Menurut Supardi, kombinasi dua sektor unggulan itu membawa dampak ganda. Selain menghasilkan telur dan ikan sebagai sumber protein masyarakat, limbah dari keduanya dapat dimanfaatkan kembali untuk pakan maupun pupuk, sehingga menciptakan sistem produksi yang efisien dan ramah lingkungan.

“Kami berupaya agar setiap bagian dari proses ini saling menopang. Tidak ada yang terbuang,” ujarnya menambahkan.

Program ini juga membuka lapangan kerja baru bagi warga, terutama kelompok pemuda dan perempuan yang terlibat dalam pengelolaan kandang serta kolam budidaya.
Manfaat ekonomi pun dirasakan langsung di tingkat keluarga, karena sebagian hasil produksi dikelola secara gotong royong dan dijual untuk menambah penghasilan rumah tangga.

Supardi menilai, kemandirian pangan harus dimulai dari desa dengan mengoptimalkan potensi lokal dan sumber daya manusia yang ada.
Dengan cara ini, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa desa bisa berdiri di atas kekuatan sendiri,” tegasnya.

Ke depan, Pemerintah Desa Kota Bangun Ilir memastikan program ini berlanjut dengan peningkatan kapasitas produksi, pembentukan koperasi peternak, serta pelatihan manajemen usaha agar masyarakat mampu mengelola hasil secara mandiri dan berorientasi pasar.

“Kami ingin program ini terus berlanjut supaya menjadi sumber penghidupan yang stabil bagi warga,” tambah Supardi.

Ia menambahkan, sinergi dengan pemerintah daerah juga terus diperkuat, terutama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perikanan.
Dukungan tersebut mencakup pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, serta fasilitasi pemasaran hasil produksi agar rantai pasok dari desa ke pasar berjalan lancar.

Supardi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan program ini bukan hanya dari jumlah telur atau ikan yang dihasilkan, tetapi dari dampak ekonomi nyata yang dirasakan masyarakat.
Setiap kegiatan diarahkan untuk membangun ekosistem usaha lokal yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

“Yang paling penting, warga bisa hidup dari hasil usaha sendiri tanpa harus meninggalkan desa,” ujarnya.

Dengan semangat gotong royong dan pengelolaan yang terencana, Supardi optimistis Desa Kota Bangun Ilir akan tumbuh sebagai desa tangguh pangan di Kutai Kartanegara.

“Ke depan kami berharap bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengoptimalkan potensi lokal menuju kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya. (rio/adv)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!