Kukar Kuasai Produksi Perikanan Kaltim, DKP Dorong Hilirisasi

intuisi

20 Nov 2025 11:46 WITA

Desa Melintang
Sektor perikanan Kukar kian dilirik pemerintah (Volker Lekies/Pixabay.com)

Tenggarong, intuisi.co – Sektor perikanan Kutai Kartanegara (Kukar) kembali mencatatkan capaian signifikan. Berdasarkan laporan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, total produksi perikanan sepanjang 2024 mencapai 323.178 ton, gabungan dari perikanan budidaya dan tangkap. Volume produksi ini menegaskan posisi Kukar sebagai penyumbang lebih dari 50 persen produksi perikanan Kalimantan Timur.

Kepala DKP Kukar, Muslik, mengatakan bahwa tingginya kontribusi tersebut tidak terlepas dari produktivitas perairan umum daratan Kukar—mulai sungai, danau, rawa, hingga kawasan-kawasan budidaya air tawar yang terus berkembang dan dikelola secara intensif.

“Produksi kita kurang lebih sekitar 400 ribu ton, baik dari budidaya maupun tangkap. Itu nanti dicek lagi, tapi kontribusinya memang besar untuk Kaltim,” jelasnya, Kamis (20/11/2025).

Berdasarkan rincian data 2024, perikanan budidaya menyumbang 206.327,8 ton, sementara perikanan tangkap mencapai 116.850,2 ton. Komoditas budidaya terbesar masih didominasi ikan nila, lele, patin, dan bandeng, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tulang punggung produksi di berbagai Pokdakan dan kawasan pesisir.

Sementara itu, untuk semester I tahun 2025, tren produktivitas tercatat tetap stabil. Produksi budidaya mencapai 108.402,6 ton, sedangkan perikanan tangkap berada pada angka 38.152,2 ton. Stabilitas produksi ini menunjukkan bahwa rantai pasok perikanan di Kukar berada dalam kondisi terjaga meski pasar komoditas kerap mengalami fluktuasi.

Muslik menegaskan bahwa capaian tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas fasilitas pendukung dan hilirisasi, agar produk perikanan tidak berhenti pada rantai primer saja. Karena itu, DKP Kukar memperkuat sarana pendaratan dan pemasaran seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dermaga, hingga fasilitas skala kecil di desa-desa nelayan.

“Kami ingin bantuan dan fasilitas yang diberikan betul-betul memberi manfaat bagi pelaku usaha perikanan. Itu yang kita jaga sambil terus mendorong peningkatan produksi,” ujarnya.

Di sisi lain, meski subsidi BBM langsung sudah tidak lagi diberikan, DKP Kukar tetap memperluas akses energi bagi nelayan melalui pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN). Salah satunya SPBN yang mulai dikerjakan di Anggana dengan menggandeng pihak swasta, agar nelayan tidak lagi bergantung pada pasokan BBM yang mahal dan sulit dijangkau.

Selain itu, DKP Kukar juga mengusulkan sejumlah desa untuk masuk dalam program Kampung Nelayan Merah Putih dari pemerintah pusat. Jika disetujui, desa-desa tersebut berpeluang mendapatkan fasilitas tambahan seperti cold storage, rumah pakan, Unit Pengolahan Ikan (UPI), dan dermaga tambat, sehingga memperkuat aktivitas produksi dan pasca-produksi.

Muslik menegaskan bahwa arah kebijakan jangka panjang DKP adalah memperkuat hilirisasi agar produk perikanan Kukar memiliki daya simpan, diversifikasi, dan nilai tambah lebih tinggi.

“Kami berharap semakin banyak olahan agar bisa disimpan lebih lama dan pasar lebih luas,” tuturnya. (adv/rio)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!