Mengungkap Misteri Pipi Besar Orangutan Jantan

intuisi

18 Apr 2025 22:02 WITA

Potret orangutan berpipi besar sedang makan pisang di penangkaran. (pixabay.com/istimewa)

Samarinda, intuisi.co-Dalam dunia satwa, orangutan memiliki keunikan yang jarang ditemukan pada spesies lain yakni dua tipe jantan dewasa. Sebagian jantan tumbuh dengan bantalan pipi besar yang disebut flense. Sementara jantan lainnya mempertahankan wajah tanpa perubahan signifikan hingga usia tua. Fenomena ini masih menjadi teka-teki ilmiah yang menarik perhatian para peneliti.

Lalu, mengapa ada orangutan jantan dewasa yang memiliki bantalan pipi besar yang sering disebut flensa, sementara yang lain tidak? Seiring bertambahnya usia, sebagian orangutan jantan tetap memiliki wajah yang lebih kecil dan polos, sementara lainnya mengembangkan flensa yang mencolok. Proses ini biasanya terjadi saat individu memasuki masa pubertas.

“Flensa ini seperti cakram terbang (frisbee) di pipi mereka dan menarik bagi orangutan betina,” tulis Parithi dalam ulasannya di frontiers.com, merujuk pada penelitian Kralick & McGrath (2021).

Keberadaan dua tipe pongo jantan ini telah lama menjadi misteri. Namun, penelitian terbaru mulai memberikan jawaban. Hasil studi yang dilakukan oleh Kralick dan McGrath menemukan bahwa individu berflensa ternyata memiliki tingkat hormon stres lebih tinggi dibandingkan mereka yang tetap berpipi kecil.

Padahal, secara sosial, jantan berflensa biasanya lebih dominan, dihormati, lebih sering menang dalam pertarungan, serta memiliki keturunan lebih banyak dibandingkan jantan tanpa pipi. Dalam beberapa spesies lain, seperti babun, individu dengan status sosial lebih rendah cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi. Namun, kasus pongo ini menunjukkan pola berbeda.

“Jantan dewasa tanpa pipi mungkin mengalami lebih sedikit tekanan saat masih kecil dibandingkan mereka yang tumbuh berflensa,” tulis Kralick dan McGrath.

Melalui analisis kerangka gigi kera besar ini, mereka menemukan bahwa jantan berflensa memiliki garis stres yang jauh lebih dalam pada gigi mereka dibandingkan individu tanpa flensa. Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman penuh tekanan di masa kanak-kanak berkontribusi pada perkembangan pipi besar saat dewasa.

“Hal ini mendukung hipotesis kami bahwa orangutan jantan berpipi mengalami stres yang lebih parah selama masa kanak-kanak, saat gigi mereka terbentuk,” tulis mereka.

Ancaman Habitat dan Perubahan Populasi Orangutan

Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang membuat primata ini mengalami stres berat? Studi menunjukkan bahwa kerusakan habitat akibat deforestasi, kebakaran hutan, dan berkurangnya sumber makanan menjadi faktor utama yang memicu tekanan besar bagi mereka.

“Kelaparan, kehilangan tempat tinggal akibat penebangan, dan melarikan diri dari kebakaran hutan merupakan hal-hal yang sangat membuat stres,” tulis Kralick dan McGrath dalam penelitian mereka.

Situasi ini semakin memperburuk kondisi orangutan, yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Jika tren ini terus berlanjut, orangutan diperkirakan bisa punah dalam 50 tahun ke depan.

Selain itu, perubahan iklim global juga mempengaruhi ketersediaan buah di hutan. “Ketika buah tidak tersedia, orangutan akan memakan kulit kayu. Akibatnya, mereka akan mengalami kelaparan dan kehilangan massa otot,” tulis Kralick dan McGrath, merujuk pada penelitian O’Connell dan kolega (2021).

Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa jumlah jantan dewasa tanpa pipi semakin berkurang setiap tahunnya. “Artinya, dalam waktu tertentu, jantan dewasa tanpa pipi mungkin akan menghilang sepenuhnya dari alam liar,” tulis Kralick dan McGrath.

Sebagai satu-satunya kera besar di Asia, orangutan hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sebagian besar populasinya, sekitar 85 persen, berada di Indonesia, sementara sisanya ditemukan di Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Menurut Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, terdapat tiga spesies orangutan yang hidup di Indonesia: Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan), Pongo abelii (orangutan Sumatera), dan Pongo tapanuliensis (orangutan Tapanuli).

Sebagai spesies kunci dalam ekosistem hutan tropis, orangutan memiliki peran penting dalam penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan. Namun, kondisi lingkungan yang semakin buruk menempatkan mereka dalam ancaman besar. Jika tidak ada upaya konservasi yang lebih kuat, bukan hanya individu tanpa flensa yang terancam punah, tetapi seluruh spesies primata endemik Kalimantan tersebut. (*)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!