HeadlineSorotan

Pemanasan Global Ubah Cuaca Jadi Ekstrem, Perlu Waswas atau Tidak?

Survei mengungkap sebagian warga Indonesia menganggap pemanasan global hanyalah mitos. Padahal ancamannya begitu nyata. Salah satunya kenaikan suhu ekstrem.

Samarinda, intuisi.coJangan pernah menganggap remeh pemanasan global. Fenomena ini sendiri juga terjadi lantaran aktivitas manusia. Mulai dari proses manufaktur, transportasi, kegiatan alih guna lahan, pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak hingga gas alam dan lain-lain.

Kegiatan tersebut kemudian memicu peningkatan gas di atmosfer terutama karbon dioksida (CO2). Dan pada akhirnya, situasi ini lantas mengakibatkan efek gas rumah kaca atau greenhouse effect.  Disebut demikian karena adanya peningkatan suhu akibat panas yang terjebak dalam atmosfer bumi.

Dalam rilisnya PBB mengungkap jika dampak dari pemanasan global begitu beragam. Mulai dari suhu panas yang meningkat dalam beberapa dekade terakhir, badai, kekeringan, kepunahan spesies hingga peningkatan risiko kesehatan.

Kendati demikian, survei yang digelar oleh YouGov pada 2020 lalu menyebut, 18 persen warga Indonesia kurang percaya dengan isu global warming. Jajak pendapat ini dilakukan kepada 25 ribu responden dari 23 negara di dunia.

Indonesia menempati peringkat pertama lantaran sebagian besar warganya tidak mempercayai isu pemanasan global. Negara ini mengalahkan Arab Saudi dengan total responden 15 persen di peringkat kedua dan Amerika Serikat 13 persen.

Dari survei ini, sebagian besar warga Indonesia mengaku ‘perubahan iklim tidak terjadi’ atau ‘perubahan iklim memang terjadi tapi bukan manusia yang bertanggung jawab’. Bahkan ada 8 persen dari 1.001 responden Indonesia yang menyatakan pemanasan global merupakan teori konspirasi.

Pemanasan global
Ilustrasi dampak pemanasan global (sciencesparks.com)

Isu Pemanasan Global Harus Direspons Generasi Muda

Peneliti cuaca dan iklim ekstrem dari Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG), Siswanto mengingatkan generasi muda harus menyadari fakta yang ada. Dia kemudian mendorong para muda-mudi untuk melakukan aksi penghijauan.

“Bagi teman-teman, anak muda sekarang, jangan nanti-nanti. Yang kita butuhkan adalah action. Fakta dan data sudah menunjukkan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim itu nyata,” ujar Siswanto dalam acara Eureka! Edisi 7: Bumi Akhir Zaman seperti dilansir dari DW Indonesia.

Setali tiga uang, hasil penelitian tentang cuaca ekstrem yang dipublikasikan Bulletin of the American Meteorological Society pada 2018 lalu juga mengungkap fakta bahwa telah terjadi peningkatan intensitas dan frekuensi gelombang panas di Asia timur laut serta Eropa selatan di tahun tersebut.

Terbaru, dari riset Nature Communications memprakirakan kondisi cuaca ekstrem di AS dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, di belahan bumi lain yakni Inggris terjadi cuaca dingin ekstrem. Perubahan iklim serta pemanasan global juga berdampak pada peningkatan frekuensi peningkatan curah hujan, banjir, kemarau panjang, kebakaran hutan, juga mencairnya es di belahan Kutub Utara dan Selatan. Efek jangka panjangnya ialah naiknya muka air laut.

World Economic Forum dalam The Global Risk Report 2019 menyatakan, perubahan iklim menempati posisi paling atas sebagai penyebab musibah global, seperti bencana alam, cuaca ekstrem, krisis pangan dan air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, serta runtuhnya ekosistem.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Agustus 2021 lalu juga menyebutkan hal senada. Emisi gas membuat suhu bumi menghangat saat ini mungkin akan melampaui batasan kesepakatan iklim global 1.5 celsius yang telah ditetapkan hanya dalam waktu 10 tahun.

“Ini merupakan kode merah untuk kemanusian,” ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres seperti dilansir dari Media Indonesia.

Pemanasan Global
Asia termasuk Indonesia merupakan salah satu kunci atasi pemanasan global (Asian Development Bank)

Bagaimana Dengan Situasi Iklim Ekstrem di Kaltim?

Kaltim sendiri juga tak bisa lepas dari situasi tersebut. Dalam riset bersama dengan dosen Universitas Mulawarman, Ike Anggraeni yang disponsori oleh Population Health Initiative para peneliti University of Washington menemukan fakta yang bikin geleng kepala di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Disebutkan jika deforestasi di Berau terbukti telah meningkatkan suhu maksimum harian rata-rata hampir satu derajat celsius dalam 16 tahun terakhir. Hasil penelitian ini sendiri sudah diterbitkan dalam jurnal Lancet Planetary Health.

“Perubahan suhu didorong deforestasi inilah yang berkontribusi kepada peningkatan penyebab kematian hingga 8 persen,” ujar Ike.

Kendati demikian, hingga kini Ike dan kawan-kawan belum menemukan kasus kematian di Berau, karena peningkatan suhu secara langsung. Hanya saja, imbas dari fenomena perubahan iklim tersebut sudah terjadi seperti pingsan karena panas, kelelahan hingga kram, dan itu dirasakan oleh sebagian pekerja.

“Alasannya, dunia membutuhkan 150 tahun untuk menghangat hingga 0.9 derajat celsius, sementara Berau hanya perlu waktu 16 tahun,” imbuhnya kepada reporter intuisi.co.

Laiknya pandemi Covid-19, perubahan iklim tidak bisa ditangani secara lokal atau regional saja. Butuh keterlibatan aktif seluruh komunitas nasional hingga internasional serta langkah tegas berskala besar, demi memerangi perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menyatakan komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 29 persen pada 2030 mendatang sesuai dengan kesepakatan di Bonn Climate Change Conference 2022. (*)

 

 

Tags

Berita Terkait

Back to top button
Close

Mohon Non-aktifkan Adblocker Anda

Iklan merupakan salah satu kunci untuk website ini terus beroperasi. Dengan menonaktifkan adblock di perangkat yang Anda pakai, Anda turut membantu media ini terus hidup dan berkarya.