Pemkab Kukar Bentuk Bank Pangan, Tekan Pemborosan Makanan

intuisi

11 Nov 2025 19:22 WITA

Ilustrasi makanan (pict: foodee)

Tenggarong, intuisi.co — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menggulirkan terobosan baru di sektor ketahanan pangan melalui pembentukan program Bank Pangan. Inisiatif yang digagas Dinas Ketahanan Pangan ini bertujuan mengurangi jumlah makanan layak konsumsi yang selama ini berakhir di tempat sampah, sekaligus menutup celah ketimpangan antara wilayah surplus dan wilayah rentan pangan di Kukar.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar Ananias menjelaskan, berdasarkan pemantauan, sekitar 16 persen pangan masyarakat terbuang di meja makan, baik dari rumah tangga, rumah makan, hotel, hingga dapur umum. Padahal sebagian besar makanan tersebut masih dalam kondisi layak konsumsi.

“Selama ini pihak hotel atau rumah makan tidak punya waktu menyalurkan kelebihan makanan. Mereka juga khawatir jika pangan yang disalurkan ternyata tidak layak dan menimbulkan gangguan kesehatan,” ungkap Ananias pada Selasa (11/11/2025).

Melihat persoalan tersebut, pihaknya menggagas pembentukan Bank Pangan sebagai wadah koordinasi antara penyumbang pangan berlebih dan relawan penyalur. Para relawan ini akan direkrut dari Kelompok Wanita Tani (KWT), Ikatan Remaja Masjid, hingga mahasiswa, yang nantinya bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan makanan berlebih ke panti asuhan, pondok pesantren, maupun warga membutuhkan.

Untuk memastikan keamanan pangan, relawan juga akan diberikan pelatihan khusus guna mengenali batas waktu konsumsi makanan. “Misalnya untuk sarapan, harus dikonsumsi maksimal sampai pukul tiga sore. Kami juga siapkan kontainer makanan agar tidak merepotkan pihak hotel atau restoran,” jelasnya.

Sejumlah hotel dan rumah makan telah menyatakan dukungan, di antaranya Grand Elty, Grand Fatma, Tepian Pandan, Ayam Banjar, dan Bebakaran. Dukungan juga datang dari beberapa dapur SPPG di Panjaitan, Loa Lepu, dan Tenggarong Seberang yang setiap hari menyiapkan ribuan porsi bagi siswa sekolah.

“Dapur SPPG ini setiap hari menyediakan sekitar 3.000 porsi. Pasti ada kelebihan, dan inilah yang akan kita manfaatkan untuk disalurkan. Tapi tentu makanan yang rawan rusak seperti berkuah akan dihindari,” kata Ananias.

Program Bank Pangan ini sekaligus menjadi bagian dari program dedikasi Bupati Kukar dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan. Menurut Ananias, peningkatan produksi pangan harus dibarengi upaya mengurangi pemborosan agar ketahanan pangan daerah tetap stabil.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kukar Sunggono menyebut inisiatif tersebut sejalan dengan upaya Pemkab mengatasi dua sisi persoalan pangan: desa yang masuk kategori rawan dan kawasan yang justru memiliki kelebihan pangan. Kolaborasi antarpihak dinilai dapat menekan potensi makanan layak konsumsi terbuang tanpa manfaat.

“Intinya, kita ingin tidak ada sumber pangan yang terbuang percuma. Rumah makan dan hotel yang memiliki makanan berlebih bisa menyalurkan lewat Bank Pangan agar dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Selain menyelamatkan pangan, Pemkab Kukar juga terus melakukan edukasi dan intervensi bagi 17 desa yang masuk kategori rentan pangan.

“Kalau tidak segera diintervensi, desa-desa ini bisa jatuh dalam kondisi rawan pangan,” tutupnya. (adv/rio)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!