Tenggarong, intuisi.co– Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, kini memanfaatkan teknologi pertanian modern untuk mendorong produktivitas sekaligus mewujudkan swasembada pangan lokal.
Salah satu inovasi utamanya adalah rice transplanter, mesin penanam padi otomatis yang mampu menanam bibit padi secara cepat, seragam, dan efisien dibanding metode tanam tradisional. Dengan alat ini, petani bisa menanam padi lebih rapi, mengurangi tenaga manusia, dan mempercepat proses tanam di lahan luas.
Kepala Desa Bangun Rejo, Yuyun Porwanti, menjelaskan bahwa keberadaan rice transplanter sangat membantu petani di tengah keterbatasan tenaga kerja. “Dengan rice transplanter, petani bisa menanam padi jauh lebih cepat dan rapi. Ini meringankan tenaga mereka, apalagi tenaga kerja makin sulit didapat,” ujarnya, Kamis (19/6/2025).
Menurut Yuyun, teknologi ini bukan sekadar soal kecepatan, tetapi bagian dari strategi jangka panjang desa untuk meningkatkan intensitas tanam dan hasil panen. Sebelumnya, lahan pertanian desa seluas ratusan hektare hanya bisa ditanami satu kali setahun karena keterbatasan air dan tenaga. Dengan rice transplanter, desa berharap bisa menanam hingga tiga kali setahun, sehingga meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
Selain itu, Yuyun menekankan manfaat sosial dari teknologi ini. Rice transplanter diharapkan bisa menarik minat generasi muda kembali ke dunia pertanian.
“Bertani sekarang bukan lagi soal cangkul dan lumpur. Dengan mesin modern, anak muda bisa melihat bahwa pertanian punya masa depan. Semoga mereka tidak malu turun ke sawah, karena pertanian kini lebih efisien dan menjanjikan,” katanya.
Petani mulai merasakan dampak positif: proses tanam lebih cepat, bibit lebih tertata, dan waktu untuk perawatan lahan lebih banyak. Hal ini juga meningkatkan peluang panen optimal dan membuka potensi usaha sampingan berbasis pertanian.
Dengan penerapan teknologi tepat guna ini, Desa Bangun Rejo menunjukkan bahwa modernisasi pertanian bisa dijalankan dari desa, menggabungkan semangat gotong royong, inovasi teknologi, dan strategi ketahanan pangan lokal.
Langkah ini menjadi contoh nyata bahwa pertanian produktif, modern, dan berkelanjutan dapat dijalankan di Kutai Kartanegara. (adv/ara)



