Tenggarong, intuisi.co– Fajar baru tengah menyingsing di Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Wilayah yang selama ini lekat dengan citra pertambangan kini mulai menata arah baru: menjadi pusat produksi pangan dan peternakan berkelanjutan.
Langkah awal telah digagas melalui pemanfaatan lahan eks tambang untuk sektor pertanian dan peternakan. Pemerintah kecamatan menyiapkan program percontohan peternakan sapi yang akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.
“Kami ingin Sangasanga tidak hanya dikenal sebagai kawasan tambang, tetapi juga sebagai lumbung pangan yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Camat Sangasanga, Dachriansyah, Rabu (30/7/2025).
Komitmen ini mendapat dukungan dari salah satu perusahaan tambang yang bersedia menghibahkan sebagian lahannya untuk mendukung inisiatif tersebut. Menurut Dachriansyah, peternakan sapi dipilih karena memiliki potensi besar dan dapat segera diimplementasikan.
“Kami sudah meninjau langsung bersama pihak perusahaan,” jelasnya.
Kabar ini disambut antusias oleh para peternak lokal. Hasanuddin (50), warga Kelurahan Sangasanga Dalam yang telah lebih dari 15 tahun menekuni usaha ternak sapi skala rumahan, menyambut baik rencana tersebut.
“Lahan kami terbatas, jadi kalau ada lahan eks tambang yang bisa dipakai dan difasilitasi pemerintah, itu sangat membantu. Apalagi kalau disertai pelatihan dan bibit sapi unggul,” ujarnya.
Ia berharap peternak kecil benar-benar dilibatkan sejak awal agar manfaat program bisa dirasakan secara merata. “Bukan hanya sapi yang tumbuh, tapi masyarakat juga ikut sejahtera,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari kelompok perempuan. Nurlela (39), peternak sekaligus anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) di Sangasanga Muara, menilai program ini bisa membuka peluang usaha baru, terutama bagi ibu rumah tangga.
“Kami para ibu-ibu siap dilibatkan. Kalau nanti ada pelatihan soal pengolahan limbah sapi jadi pupuk atau pakan fermentasi, itu bisa jadi tambahan ilmu dan penghasilan buat kami,” tuturnya.
Menurut Dachriansyah, program ini merupakan bagian dari visi besar Pemkab Kukar dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. Peternakan sapi dinilai tidak hanya menghasilkan daging, tetapi juga memberikan kontribusi ekologis melalui produksi pupuk organik.
“Kami berkomitmen melibatkan masyarakat dalam setiap tahap program ini, mulai dari pelatihan, pembentukan kelompok usaha, hingga operasionalnya. Ini adalah investasi jangka panjang,” tegasnya.
Tak hanya fokus pada peternakan, potensi pertanian tanaman pangan dan hortikultura di atas lahan eks tambang juga tengah dikaji untuk dikembangkan dalam satu sistem pertanian terpadu. Pemerintah kecamatan turut menggandeng OPD teknis seperti Dinas Peternakan dan Dinas Pertanian Kukar untuk memastikan pendampingan berjalan optimal.
Lebih dari sekadar program ekonomi, inisiatif ini juga bertujuan merehabilitasi ekosistem yang terdampak aktivitas tambang jangka panjang. “Ini bukan proyek satu-dua tahun. Tapi rencana besar untuk menyelamatkan lingkungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujar Dachriansyah.
Jika berhasil, Sangasanga akan menjadi contoh nyata bagaimana lahan eks tambang dapat dikonversi menjadi aset produktif dan ramah lingkungan. Dengan dukungan masyarakat, peternak lokal, perusahaan, dan pemerintah, Sangasanga bersiap mengubah wajahnya, dari kawasan tambang menjadi pusat harapan baru di sektor ketahanan pangan Kukar. (adv/ara)



