SPR Kukar Cetak Peternak Muda Mandiri dan Berjiwa Bisnis

intuisi

2 Agu 2025 10:37 WITA

Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik saat ditemui media. (Intuisi.co)

Tengagrong, intuisi.co– Dorongan besar untuk regenerasi peternak di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini datang melalui Program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Inisiatif ini membidik anak muda agar menjadi peternak mandiri, inovatif, dan berjiwa bisnis lewat pelatihan intensif selama sembilan bulan.

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar menggagas program ini sebagai upaya mencetak generasi baru peternak muda yang terampil dan siap menjadi tulang punggung sektor peternakan masa depan.

Target utamanya adalah pemuda berusia 19 hingga 39 tahun yang akan mengikuti proses inkubasi lengkap dengan pendampingan lapangan, pelatihan teknis, dan penguatan jejaring usaha.

Menurut Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, SPR bukan sekadar pelatihan biasa. “SPR hadir sebagai wadah pembentukan komunitas peternak milenial yang siap mandiri dan bersaing di era agribisnis modern,” ujarnya, Sabtu (2/8/2025).

Pendekatan yang digunakan dalam program ini berbasis komunitas. Setiap angkatan dibentuk dalam kelompok kecil berisi sekitar sembilan peserta agar proses mentoring lebih intensif dan hasil pelatihan lebih terukur. Wilayah seperti Muara Kaman dan Ulu telah dipetakan sebagai lokasi awal pembinaan karena memiliki potensi peternakan rakyat yang tinggi.

Selama masa pelatihan, peserta akan dibimbing langsung oleh tim Yayasan Karya Bangun Bangsa Indonesia (YKBBI) yang tinggal bersama komunitas. Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga terjun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan manajemen kandang, pembibitan, pemasaran, dan strategi usaha.

Untuk menjamin kualitas kurikulum, Distanak Kukar menggandeng mentor dari perguruan tinggi ternama seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Model pembelajaran yang diterapkan bersifat holistik, mencakup keterampilan teknis dan kemampuan membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Taufik menjelaskan bahwa peternak muda yang dicetak melalui SPR akan dibekali kemampuan berpikir strategis.

“Mereka akan tahu bagaimana mengembangkan skala usaha, membangun jaringan pasar, dan menarik investor,” katanya.

Program ini juga membuka jenjang lanjutan bagi peserta yang ingin naik tingkat. Alumni SPR berkesempatan menjadi mentor bagi kelompok peternak lain atau bahkan membentuk koperasi sendiri. Dengan begitu, tercipta ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sektor peternakan di Kukar masih didominasi oleh kelompok usia tua. Kehadiran SPR diharapkan mampu mengatasi krisis regenerasi yang mengancam keberlanjutan sektor pangan hewani di daerah.

“Kami tidak ingin sektor peternakan stagnan. Harus ada darah baru yang masuk dengan semangat, inovasi, dan keberanian membangun usaha,” tegas Taufik.

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Distanak Kukar menargetkan lahirnya ratusan peternak muda yang tangguh dan mandiri dari program ini. Para peternak diharapkan menjadi penggerak sektor peternakan sekaligus pionir agribisnis berbasis komunitas yang mampu mengangkat ekonomi desa.

“Ini adalah investasi jangka panjang. Kalau kita mulai dari sekarang, Kukar akan punya generasi peternak yang tidak kalah dengan pelaku industri besar,” tutup Taufik. (adv/ara)

Ikuti berita-berita terbaru Intuisi di Google News!