Tenggarong, intuisi.co – Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), resmi membuka Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak putus sekolah. Program ini menjadi langkah nyata untuk memperluas akses belajar di wilayah pedalaman dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) daerah.
Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan SKB tersebut rampung dibangun pada tahun 2024 dan mulai beroperasi pada 2025. Fasilitas ini menjadi wadah pendidikan nonformal bagi warga yang belum menyelesaikan pendidikan di tingkat SD, SMP, maupun SMA.
“SKB itu baru rampung di tahun 2024, dan mulai tahun 2025 ini resmi beroperasi serta menerima pendaftaran siswa,” jelas Suhartono, Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, meski data jumlah pendaftar masih menunggu laporan resmi dari UPT Layanan Pendidikan, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Banyak orang tua yang sudah mendaftarkan anak-anak mereka yang sempat berhenti sekolah karena kendala ekonomi atau jarak tempuh.
“Informasi jumlah pendaftar masih menunggu update dari UPT layanan pendidikan, tapi yang jelas sudah dibuka untuk semua anak yang belum mendapat kesempatan bersekolah,” ujarnya.
Salah satu peserta didik SKB, Rizky (17), mengaku senang bisa kembali bersekolah setelah dua tahun berhenti karena biaya transportasi dan jarak sekolah yang jauh. “Saya berhenti sekolah karena jaraknya jauh dan biaya transportasinya mahal. Sekarang ada SKB di sini, jadi saya bisa belajar lagi tanpa harus pergi jauh,” tuturnya dengan senyum lebar.
Kini Rizky menempuh pendidikan setara SMP dan bercita-cita melanjutkan ke sekolah kejuruan setelah lulus. Ia berharap keberadaan SKB bisa membantu teman-temannya yang mengalami nasib serupa untuk kembali belajar.
Terpisah, Plt Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pujianto, menjelaskan bahwa banyaknya SKB di Kukar bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam memfasilitasi warga yang belum tuntas menempuh pendidikan formal.
“SKB kita itu terbanyak se-Indonesia. Kenapa dibuat banyak? Karena ini konsennya pemerintah daerah untuk memfasilitasi warga yang tidak tuntas belajar, baik yang putus sekolah maupun yang di luar usia sekolah,” ujarnya.
Menurut Pujianto, masyarakat yang tidak menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu kerap menjadi bagian dari indikator kemiskinan. Karena itu, keberadaan SKB diarahkan untuk memutus rantai tersebut, agar warga memiliki kesempatan kembali menempuh pendidikan kesetaraan.
“Selama warga kita tidak lulus dari satu jenjang pendidikan, itu bisa menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Maka pemerintah daerah hadir dengan membangun SKB, supaya mereka bisa bersekolah kembali lewat program kesetaraan,” jelasnya.
Selain program Paket A, B, dan C yang setara dengan SD, SMP, dan SMA, SKB juga menyediakan program life skill. Warga tidak hanya mendapat pendidikan formal, tetapi juga keterampilan kerja dan kewirausahaan.
Pujianto menyebut, keterampilan yang diajarkan beragam, mulai dari menjahit, tata boga, hingga pelatihan cukur rambut. Sementara bagi yang ingin masuk ke dunia kerja, SKB juga menyediakan pelatihan berbasis sertifikat yang bisa digunakan untuk melamar pekerjaan di perusahaan.
“Di SKB ada program PKK dan PKW. Kalau untuk kewirausahaan, bisa belajar menjahit, tata boga, atau cukur rambut. Kalau untuk keterampilan kerja, nanti ada pelatihan yang disertai sertifikat, sehingga bisa menjadi modal saat melamar kerja,” paparnya.(rio/adv)



