Tenggarong, intuisi.co – Dua komoditas unggulan — karet dan kelapa sawit — kini menjadi tumpuan utama ekonomi Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar). Kawasan ini bertransformasi dari desa agraris tradisional menjadi desa produktif dan mandiri. Harapan yang ditanam lebih dari satu dekade lalu kini berbuah manis bagi warga.
“Alhamdulillah, bantuan bibit dulu sekarang sudah membuahkan hasil. Warga bisa merasakan manfaatnya,” ujar Kepala Desa Margahayu, Rusdi, Selasa (7/10/2025).
Menurut Rusdi, awal keberhasilan ini bermula dari program bantuan bibit karet yang disalurkan pemerintah sekitar sepuluh tahun lalu. Bibit-bibit itu kini tumbuh subur menjadi sumber penghidupan baru bagi warga, memperkuat struktur ekonomi desa yang semula hanya bergantung pada pertanian padi.
Dari sekitar 1.200 Kepala Keluarga (KK) di Margahayu, sekitar 35 persen kini menggantungkan hidup dari kebun karet dan sawit, sementara sisanya masih menekuni pertanian pangan dan usaha kecil menengah.
Kebangkitan ekonomi desa juga didorong oleh peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mandiri Sejahtera, yang menjadi penghubung antara petani dengan pabrik pengolahan, sekaligus memastikan harga jual hasil panen tetap stabil.
“Kami ingin petani fokus produksi. Urusan distribusi biar BUMDes yang urus, supaya lebih efisien,” tegas Rusdi.
Selain karet, perkebunan sawit mulai menunjukkan potensi besar. Sekitar 10 persen lahan Margahayu telah beralih menjadi kebun sawit, banyak di antaranya dikelola generasi muda desa.
Kedekatan lokasi dengan pabrik pengolahan PT Niaga Emas menambah optimisme warga terhadap prospek sawit sebagai sumber ekonomi masa depan.
“Anak-anak muda sekarang melihat sawit sebagai peluang besar. Pasarnya jelas, pabriknya dekat,” tambahnya.
Kini, Margahayu memiliki 20 kelompok tani aktif yang menjadi tulang punggung produksi karet dan sawit di wilayah tersebut. Namun, tantangan tetap ada — terutama pada biaya distribusi karet yang masih tinggi akibat keterbatasan sarana angkut.
Sebagai solusi, pemerintah desa tengah menyiapkan program pelatihan pengolahan hasil perkebunan, seperti produksi bahan olahan karet dan minyak sawit skala rumah tangga.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal, sehingga petani tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.
Rusdi menegaskan, keberhasilan Margahayu tidak semata diukur dari hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan dan kemandirian warga.
Desa yang dulunya dikenal dengan pertanian tradisional kini bertransformasi menjadi pusat ekonomi berbasis perkebunan rakyat.
“Yang kami perjuangkan adalah bagaimana petani bisa menikmati hasilnya secara adil dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan semangat gotong royong, dukungan pemerintah, dan peran aktif BUMDes, Margahayu kini menapaki jalan menuju desa sejahtera yang tumbuh dari kekuatan lokalnya sendiri. (rio/adv)



