Tenggarong, intuisi.co– Dari kandang ayam hingga kolam lele, Desa Kota Bangun Ilir, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tengah menumbuhkan geliat ekonomi baru. Melalui program peternakan terpadu ayam petelur dan budidaya ikan lele, desa ini berhasil membuka sumber penghidupan bagi warga sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
Kepala Desa Kota Bangun Ilir, Supardi, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan pengembangan dari kegiatan sebelumnya yang berfokus pada ayam petelur. Tahun 2025, inovasi diperluas dengan menambahkan sektor budidaya ikan lele sebagai bentuk diversifikasi ekonomi desa.
“Tahun lalu kami fokus pada ayam petelur, tahun ini kami tambah dengan budidaya lele. Tujuannya agar ekonomi masyarakat semakin kuat dan desa bisa mandiri dalam ketahanan pangan,” ujar Supardi, Rabu (29/10/2025).
Supardi menuturkan, kombinasi dua sektor unggulan ini membawa dampak ganda. Selain menghasilkan telur dan ikan sebagai sumber protein, limbah dari keduanya dimanfaatkan kembali untuk pakan maupun pupuk, sehingga menciptakan sistem produksi yang efisien dan ramah lingkungan.
“Kami berupaya agar setiap bagian dari proses ini saling menopang. Tidak ada yang terbuang,” tambahnya.
Program ini juga membuka lapangan kerja baru bagi warga, terutama pemuda dan perempuan yang terlibat dalam pengelolaan kandang serta kolam budidaya. Hasil produksi sebagian dikelola secara gotong royong dan dijual, sehingga memberi tambahan penghasilan bagi rumah tangga.
“Kemandirian pangan harus dimulai dari desa dengan mengoptimalkan potensi lokal dan sumber daya manusia yang ada. Kami ingin menunjukkan bahwa desa bisa berdiri di atas kekuatan sendiri,” tegas Supardi.
Sinergi dengan pemerintah daerah terus diperkuat, terutama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perikanan. Dukungan mencakup pendampingan teknis, penyediaan bibit unggul, hingga fasilitasi pemasaran agar rantai pasok dari desa ke pasar berjalan lancar.
Ke depan, Pemerintah Desa Kota Bangun Ilir menargetkan peningkatan kapasitas produksi, pembentukan koperasi peternak, dan pelatihan manajemen usaha. Supardi menekankan bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya dari jumlah telur atau ikan yang dihasilkan, melainkan dari dampak ekonomi nyata yang dirasakan masyarakat.
Di tempat terpisah, Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menambahkan bahwa Pemkab melalui Dinas Pertanian dan Peternakan rutin memberikan bantuan alsintan kepada kelompok tani di desa dan kelurahan secara bergiliran. Menurutnya, bantuan ini tidak hanya mempercepat modernisasi pertanian, tetapi juga memotivasi petani untuk mengembangkan usaha.
“Bantuan alsintan tersebut merupakan bagian dari penegasan komitmen Pemkab Kukar dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendorong kemandirian sektor pertanian dan peternakan,” pungkasnya. (adv/ara)



