HeadlineNasionalSamarinda

Waspada! Ikan di Sungai Mahakam Tercemar Mikroplastik

Sungai Mahakam tercemar mikroplastik. Fakta ini terungkap setelah Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) melakukan riset di sungai tersebut.

Samarinda, intuisi.coSungai Mahakam tercemar mikroplastik. Kenyatataan tersebut dibeberkan oleh Tim ESN yang melakukan riset bersama mahasiswa Unmul pada 24 September 2022 lalu.

Penelitian tersebar di enam lokasi. Mulai dari Muara Sungai Karang Mumus (SKM), pertemuan SKM dengan Sungai Mahakam, kemudian Pangkalan Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM, kawasan pabrik tahu SKM.

Ketiga daerah ini berada di wilayah Samarinda. Sementara dua lainnya yakni, aliran Sungai Mahakam di Loa Janan serta Kutai Lama masuk Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Dari keenam lokasi ini kandungan mikroplastik paling banyak terdapat di Jalan Gajah Mada, Samarinda,” ujar Prigi Arisandi, salah satu peneliti ESN kepada intuisi.co belum lama ini.

Kata dia, selain berarus kuat, sungainya juga lebar di kawasan ini banyak dijumpai sampah plastik dari pasar, kegiatan pelabuhan dan dari anak-anak Sungai Mahakam. Lebih lanjut dia menerangkan, di kawasan Gajah Mada ini pula pihaknya menemukan 324 partikel mikroplastik dalam 100 liter air.

“Rerata kontaminasi yang diambil sebesar 163 partikel mikroplastik di enam lokasi,” terangnya.

Prigi menyatakan, mikroplastik tersebut paling banyak ditemukan di Sungai Mahakam ialah jenis fiber sebesar 71,8 persen sedangkan jenis filamen–benang-benang plastik–sebesar 23,2 persen. Ada pula mikroplastik lain seperti tas, botol minuman, sedotan, dan popok.

“Semuanya bisa menjadi serpihan karena paparan matahari serta pasang surut sungai,” terangnya lagi.

Faktor Pemicu Sungai Mahakam Tercemar Mikroplastik

Kata Prigi, ulasan serupa juga pernah diteliti oleh Renny Septiana, mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul pada 2019. Riset ini menemukan puluhan ikan gabus dan baung yang ada di Sungai Mahakam kemudian SKM sudah tercemar mikroplastik.

“Setidaknya ada sembilan partikel dalam satu ekor ikan” ungkap Prigi yang pernah mendapat The Goldman Environmental Prize.

Dia menuturkan, tim ESN menyimpulkan ada tiga faktor pemicu pencemaran mikroplastik yakni minimnya layanan pengangkutan sampah dari rumah penduduk ke tempat pengumpulan sampah sementara. Lalu, terbatasnya kesadaran membuang sampah di tempatnya. Lebih memilih ke sungai. Terakhirnya, masifnya penggunaan plastik serta turunannya.

“Di Samarinda, pemerintah (pemprov dan pemkot) hanya menangani sampah dari TPS ke TPA, sedangkan dari rumah ke TPS dilayani pihak ketiga yang sulit divalidasi datanya,” tegasnya.

Terpisah, Dosen Teknik Lingkungan Unmul, Juli Nurdiana juga ikut menimpali bila pencemaran mikroplastik di Sungai Mahakam bukan tanpa sebab. Sejumlah hal turut memengaruhi. Misalnya, hingga kini Samarinda belum memiliki TPA berkonsep sanitary landfill, sementara TPA Bukit Pinang sudah overload dan yang ada di Sambutan aksesnya sulit.

Persoalan selanjutnya, sebut dia, pengangkutan sampah tidak menjangkau semua penduduk Samarinda. Lalu belum tersedianya fasilitas layak bagi masyarakat, sehingga masih yang buang sampah ke Sungai Mahakam dan anak sungainya.

“Kami sarankan, sebaiknya mulai dari sekarang ada perbaikan untuk pengelolaan sampah,” pungkasnya. (*)

Tags

Berita Terkait

Back to top button
Close

Mohon Non-aktifkan Adblocker Anda

Iklan merupakan salah satu kunci untuk website ini terus beroperasi. Dengan menonaktifkan adblock di perangkat yang Anda pakai, Anda turut membantu media ini terus hidup dan berkarya.